Potensi Gede, INDEF Sarankan Pakai Skema Pajak Progresif Mobil Listrik
:
0
Ilustrasi mobil listrik. Dok. Montiro.id.
EmitenNews.com - Dalam penilaian INDEF, penerapan Kawasan Zona Rendah Emisi atau Low Emissions Zone (LEZ) memiliki potensi besar menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang signifikan. Low Emissions Zone (LEZ) menjadi alternatif yang lebih masuk akal dibandingkan wacana pengenaan pajak kendaraan listrik yang dikhawatirkan memperlambat adopsi kendaraan ramah lingkungan.
Head of Industrial and Transport Decarbonization INDEF Green Transition Initiative (GTI), Andry Satrio Nugroho mengemukakan hal tersebut dalam keterangannya seperti dikutip Selasa (26/5/2026).
Andry menyatakan bahwa penghentian insentif kendaraan listrik harus dihitung secara matang agar tidak mengganggu transisi energi di Indonesia.
Dalam kajian INDEF GTI, terdapat tiga opsi penerimaan alternatif yang bisa dikembangkan pemerintah daerah, yaitu:
Pertama, penerapan Low Emissions Zone (LEZ). Hanya di koridor Jalan Sudirman, Jakarta, kawasan ini berpotensi menghasilkan Rp383 miliar per tahun. Selain mendatangkan pendapatan, LEZ juga efektif meningkatkan kualitas udara. Potensi pendapatan akan semakin besar jika diterapkan di kawasan-kawasan lain.
Kedua, cukai emisi. Sektor ini diproyeksikan mampu menyumbang hingga Rp40 triliun per tahun bagi negara, bahkan melebihi gabungan cukai plastik dan minuman berpemanis, serta tiga kali lipat cukai alkohol. Pendapatan tersebut nantinya dapat dibagikan ke daerah melalui Dana Bagi Hasil (DBH) berbasis kinerja lingkungan.
Kemudian, ketiga, pajak progresif berbasis kepemilikan kendaraan. Jika tetap ingin memajaki kendaraan listrik, INDEF menyarankan skema progresif untuk kepemilikan kedua dan seterusnya.
Mengutip data 2025 menunjukkan 66,2 persen kepemilikan kendaraan listrik adalah kepemilikan kedua, sedangkan kepemilikan pertama hanya 4 persen. Potensi penerimaan dari skema ini mencapai Rp1,9 triliun per tahun.
Menurut Andry, kepastian terkait waktu dan perhitungan ini perlu agar tidak membingungkan dunia usaha. Selain itu, adanya kepastian bisa menjaga minat masyarakat yang baru akan berpindah dari kendaraan bahan bakar fosil ke kendaraan listrik. ***
Related News
Bangkit Usai Suspensi BEI, BAIK Siapkan Agenda Untuk Paparan Publik
Pertahankan Predikat Maskapai Paling Tepat Waktu, Ini Kiat Pelita Air
Rupiah Menguat ke Rp17.627 per Dolar AS Pagi Ini
Harga Emas Antam Naik Rp31 Ribu Jelang Data Tenaga Kerja AS
Nilai Tukar Rupiah Diramal Bakal Menguat Hari Ini (4/9), Apa Pemicunya
Lonjakan Yield Obligasi Jepang Picu Kekhawatiran Carry Trade Yen





