EmitenNews.com -  Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menindaklanjuti pengumuman MSCI yang membuka klausul perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market.

Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi mengatakan bahwa Bursa akan segera meminta waktu kepada MSCI untuk mengklarifikasi concern mereka, sehingga menetapkan pengumuman tersebut.

"Kami dari bursa tentu menanggapi dengan serius. Dan akan segera meminta waktu kepada MSCI untuk mengklarifikasi concern mereka," kata Iding kala jumpa pers, Jumat (16/10/2026).

Pasalnya, bursa telah menempuh langkah konkret melalui reformasi pasar modal untuk meningkatkan kualitas pasar. Di antaranya yaitu dari sisi transparansi BEI membuka data kepemilikan jadi 1% dari sebelumnya 5%, kemudian granularity data tipe investor dari 9 menjadi 39, hingga mengumumkan saham high shareholding concentration atau saham HSC.

Teranyar, BEI juga menetapkan pembaruan metode price-to-impact ratio guna menyasar saham dengan kapitalisasi pasar minimum Rp5 triliun dari semula Rp10 triliun. 

Selain itu masih dari sisi likuiditas, BEI juga telah menghapus floor price atau harga minimum dari Rp50 menjadi Rp1, serta kembali dibukanya transaksi short selling secara terbatas dengan price management control.

"Itu semua untuk memperkuat mekanisme likuiditas. Jadi terkait dengan concern MSCI, tentu sekali lagi kami menanggapi dengan serius dan kami akan segera berkomunikasi dengan MSCI terkait concern tersebut sehingga apa yang menjadi latar belakang mereka menempatkan atau membuka konsultasi untuk menempatkan pasar Indonesia ke stand alone market," kata Iding.

Meski demikian, hal tersebur belum ditetapkan karena MSCI masih membuka konsultasinya itu hingga April 2027, dan keputusan final paling lambat Juni 2027.

"Jadi kami dengan waktu yang tersedia ini tentunya akan berupaya semaksimal mungkin melengkapi apa-apa yang masih kurang menurut sebagian investor global terkait dengan reformasi yang kami lakukan," tutur Iding.

Di sisi lain, Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin menilai fundamental emiten masih bertumbuh. Secara agregat, pendapatan emiten tumbuh di kisaran 13 persen, laba meningkat 9 persen.