EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup menguat 2,25 persen menjadi 5.030. Secara teknikal, IHSG berhasil ditutup di atas level MA3, dan MA5. Kalau bertahan di atas level 5.000, IHSG berpeluang menguji level resistance 5.100-5.125 pada perdagangan Jumat, 6 November 2026.

Namun, perlu diwaspadai potensi profit taking di tengah ketidakpastian masih tinggi. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,47 persen YoY pada kuartal III 2026, meningkat dari titik terendah tiga kuartal 5,29 persen edisi 2026, dan melampaui ekspektasi pasar sebesar 5,2 persen. Konsumsi swasta tetap tumbuh namun sedikit melambat (5,04 persen vs 5,06 persen).

Konsumsi itu, didukung stimulus pemerintah melindungi rumah tangga dari tekanan inflasi, dan biaya pinjaman lebih tinggi. Namun, pengeluaran pemerintah turun menjadi 8,95 persen dari 15,97 persen, dan pertumbuhan investasi susut 6,6 persen dari 6,87 persen. Berdasar sektor, aktivitas meningkat manufaktur, akomodasi, transportasi/gudang, dan komunikasi.

Langkah Bursa Efek Indonesia (BEI) memperluas keterbukaan informasi kepemilikan saham di atas 1 persen, termasuk identifikasi status pengendali dan pihak terafiliasi, merupakan bagian penting dari reformasi transparansi pasar modal menjelang evaluasi MSCI pada 11 November 2026. Kebijakan itu, diharap membantu investor menilai struktur, dan konsentrasi kepemilikan saham secara lebih akurat.

Namun, dampak positif terhadap persepsi MSCI akan sangat bergantung pada konsistensi implementasi, dan efektivitas keterbukaan informasi tersebut. Berdasar data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan investor menjala saham Bank BCA (BBCA), Bank BRI (BBRI), Amman (AMMN), Merdeka Gold (EMAS), dan Indofood (INDF). (*)