EmitenNews.com -Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 2,25% atau 110 poin ke level 5.030 pada perdagangan Kamis (5/11/2026). Kenaikan ini menjadi sinyal awal titik balik pasar setelah tekanan jual dalam beberapa pekan terakhir, dengan investor domestik tampil sebagai penopang utama pemulihan.

Praktisi Pasar Modal dan Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai penguatan kali ini bukan sekadar pantulan sesaat. Kenaikan yang ditopang penguatan rupiah dan rotasi ke saham-saham berkapitalisasi besar menunjukkan kepercayaan pelaku pasar mulai kembali terbangun.

"Pasar mulai menemukan pijakan barunya. Selama IHSG bertahan di atas 5.000, peluang untuk melanjutkan penguatan ke 5.100–5.200 semakin terbuka," ujar Hendra.

Dari sisi eksternal, sentimen global turut mendukung. Hasil pemilu paruh waktu Amerika Serikat memunculkan harapan meredanya ketegangan geopolitik. Penurunan harga minyak, melemahnya dolar AS, serta turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke 4,85% memberi ruang bagi aset berisiko, termasuk saham negara berkembang.

Meski demikian, pelaku pasar tetap diminta waspada. Harga minyak Brent yang masih di sekitar USD93,82 per barel menunjukkan risiko inflasi global belum sepenuhnya mereda. Bagi Indonesia, harga energi yang tinggi tetap menjadi tantangan karena dapat menekan APBN, memperbesar kebutuhan subsidi, dan membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter.

Menariknya, penguatan IHSG kali ini terjadi di tengah aksi jual investor asing. Pada perdagangan sebelumnya asing mencatatkan net buy sekitar Rp260 miliar, namun saat IHSG menguat 2,25%, asing justru mencatatkan net sell sekitar Rp25 miliar.

Kondisi ini menegaskan bahwa pemulihan ditopang kekuatan investor domestik, bukan sekadar mengikuti arus dana asing.Penguatan rupiah sekitar 0,47% ke Rp18.082 per dolar AS menjadi katalis tambahan yang memperkuat sentimen positif di pasar.

Dari sisi sektoral, perbankan diproyeksikan menjadi motor utama pemulihan karena kapitalisasinya besar, likuid, dan sensitif terhadap perubahan sentimen. Sektor konsumer juga menarik karena karakternya yang defensif dan ditopang kuatnya kebutuhan domestik.

Untuk strategi, Hendra merekomendasikan trading buy bertahap dengan disiplin pada target keuntungan dan batas kerugian, pada saham-saham pilihan seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan INDF.

"Strategi terbaik saat ini adalah trading secara selektif, memprioritaskan saham berfundamental baik dan likuid, melakukan pembelian bertahap, serta disiplin terhadap stop loss," pungkas Hendra.Dengan kombinasi sentimen global yang membaik, rupiah yang menguat, dan dominasi investor domestik, IHSG kini memiliki fondasi yang lebih kokoh untuk melanjutkan pemulihan hingga akhir tahun.