EmitenNews.com - Amerika Serikat boleh menarik komitmennya, tetapi program pembiayaan Kemitraan Transisi Energi Berkeadilan (Just Energy Transition Partnership (JETP) terus berlanjut. 

Saat ini total ada sebanyak USD1,1 miliar atau setara Rp18,15 triliun (kurs Rp 16.500) dukungan pembiayaan dari JETP yang telah masuk Indonesia. Dana tersebut telah membiayai setidaknya sebanyak 54 program.

Dalam keterangannya yang dikutip Rabu (2/4/2025), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, dari total pendanaan tersebut, 9 proyek mendapatkan dana dalam bentuk pinjaman atau ekuitas. Lalu, 45 proyek lainnya menerima hibah senilai USD233 juta.

International Partners Group (IPG) juga telah mengamankan jaminan sebesar USD1 miliar melalui multilateral development banks guarantee untuk mempercepat proyek-proyek transisi energi bersih di Indonesia.

"Implementasi JETP ini sebanyak 54 proyek telah menerima dukungan pendanaan internasional dengan komitmen USD1,1 miliar," kata Menko Airlangga Hartarto dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (24/3/2025).

Terdapat sejumlah proyek yang mendapatkan pendanaan besar dari JETP. Di antaranya program pengembangan panas bumi (geothermal) Muara Laboh di Sumatera Barat, yang diharapkan beroperasi pada 2027.

Lainnya, beberapa proyek yang sudah masuk pipeline, seperti proyek fotovoltaik di Saguling. Lalu ada juga proyek dekarbonisasi pembangkit listrik Cirebon Power juga masuk daftar penerima pendanaan.

"Di samping itu juga ada beberapa proyek yang lain, termasuk waste to energy yang diusulkan untuk segera masuk di dalam pipeline JETP yaitu proyek di Legok Nangka, Jawa Barat," ujar mantan Ketua Umum Partai Golkar itu.

Dengan begitu, Menko Airlangga memastikan, tidak ada perubahan komitmen pendanaan setelah AS hengkang dari program ini. Indonesia tetap akan mendapatkan pendanaan senilai USD20 miliar atau setara Rp330 triliun (kurs Rp16.500).

"Jerman dan Jepang tetap menjadi co-lead JETP, walaupun Amerika mengundurkan diri. Jadi komitmen untuk JETP dilanjutkan. Targetnya mendukung transisi energi di Indonesia menuju net zero emission (NZE) di tahun 2060 atau lebih cepat," tegasnya.

Indonesia juga tetap berkomitmen untuk mencapai target penurunan emisi pada 2030 sebesar 31,89% secara mandiri dan 43% apabila mendapat dukungan pendanaan internasional.

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Transisi Energi dan Ekonomi Hijau berdasarkan Keputusan Menteri Koordinator (Kepmenko) Bidang Perekonomian Nomor 141 Tahun 2025.

Satgas tersebut memiliki empat kelompok kerja: energi hijau, industri hijau, kemitraan dan investasi hijau serta pengembangan sosial, ekonomi dan sumber daya manusia. ***