EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan dapat tembus ke level Rp19.000 jik sentimen negatif yang terjadi di global maupun domestik belum menunjukkan perbaikan.

Berdasarkan keterangan pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, rupiah dibuka melemah ke level Rp18.129 per USD.

"Apabila tekanan pasar masih berlangsung, terdapat potensi rupiah bergerak menuju kisaran Rp19.000 per dolar AS pada akhir bulan,” kata Ibrahim, Senin (8/6/2026).

Dari sisi eksternal, pasar dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak mentah dunia sekaligus mendorong penguatan dolar AS.

Lonjakan harga energi dinilai meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global, terutama di Amerika Serikat. Kondisi tersebut diperkuat oleh data ketenagakerjaan AS yang masih solid, sehingga memperkecil peluang pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat.

Pelaku pasar kini mulai memperhitungkan skenario suku bunga tinggi atau higher for longer dari bank sentral AS, bahkan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan apabila tekanan inflasi belum mereda.

Sementara di dalam negeri, sentimen pasar juga dibayangi oleh sejumlah faktor yang memengaruhi persepsi investor.

Beberapa faktor yang menjadi perhatian pelaku pasar antara lain, kenaikan harga minyak mentah yang berpotensi meningkatkan kebutuhan impor energi dan permintaan dolar AS, serta penyempitan surplus neraca perdagangan yang dapat memengaruhi daya tahan sektor eksternal.

“Kalau kebutuhan dolar mengalami peningkatan, berarti ini pun juga akan mempengaruhi neraca berjalan. Kalau neraca berjalan berpengaruh, berarti akan mempengaruhi defisit anggaran, dan kemungkinan besar akan mendekati 3 persen,” tutur Ibrahim