Rupiah Makin Loyo, Hampir Sentuh Rp17.400
:
0
Ilustrasi nilai tukar rupiah ke dolar AS.
EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan mencapai titik terendah sepanjang masa. Pada perdagangan Senin (4/5/2026) rupiah ditutup loyo 57 poin ke level Rp17.394.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menyebut, sebelum libur panjang, rupiah sempat melemah 60 poin di level Rp17.353.
Sejumlah sentimen global dan domestik memicu pelemahan rupiah ke titik terendahnya. Di antaranya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa AS akan memulai upaya untuk membebaskan kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz akibat konflik yang masih berlangsung.
Dalam pernyataannya melalui Truth Social, Trump menegaskan bahwa AS akan membantu memandu kapal-kapal keluar dari jalur perairan yang diblokade agar aktivitas perdagangan dapat kembali berjalan normal.
“Langkah ini dilakukan di tengah upaya AS untuk mendorong kesepakatan nuklir dengan Iran. Sementara itu, Iran mengusulkan agar pembahasan isu nuklir ditunda hingga konflik berakhir, dengan syarat kedua pihak mencabut blokade pelayaran di kawasan Teluk,” tutur Ibrahim
Di kawasan Eropa Timur, konflik juga memanas. Ukraina melancarkan serangan drone ke sejumlah target di wilayah Rusia, termasuk pelabuhan Primorsk di Laut Baltik yang dilaporkan mengalami kebakaran.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut serangan tersebut menyebabkan kerusakan signifikan pada terminal minyak. Selain itu, serangan juga menyasar kapal tanker minyak, kapal rudal kecil kelas Karakurt, serta kapal patroli Rusia di Laut Baltik.
Sementara itu, dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2026 mencatatkan surplus sebesar USD3,32 miliar, meningkat dibandingkan Februari 2026 yang sebesar USD1,27 miliar.
Surplus ini didorong oleh kinerja ekspor sebesar USD22,53 miliar, meski turun 3,10 persen secara tahunan. Sementara itu, impor tercatat sebesar USD19,21 miliar atau tumbuh 1,51 persen.
“Sebagai catatan ini adalah surplus dalam 70 bulan beruntun sejak Mei 2020,” ujar Ibrahim.
Related News
Sama Dengan Indonesia, PMI Manufaktur Thailand Juga 'Letoy'
BI: Kenaikan Surplus Neraca Perdagangan Topang Ekonomi Eksternal
Rantai Pasok Global Terganggu, PMI Manufaktur Indonesia April Melemah
Eskalasi Timur Tengah Bawa Dolar Kembali Berfluktuasi
Tanggapi Presiden, Bagi UMKM Kemudahan Akses Pembiayaan Lebih Utama
Kunjungan Turis China Meningkat, Masih di Bawah Malaysia dan Australia





