EmitenNews.com - Standard Chartered memperkirakan pertumbuhan ekonomi global bakal melambat menjadi 2,9% di 2024. Namun khusus untuk Asia, kemungkinan akan menjadi kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di angka 4,9%.

Hal ini merupakan poin penting dalam laporan Standard Chartered Global Focus – Economic Outlook 2024, yang dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi RI Luhut Binsar Pandjaitan. 

Turut hadir mewakili Standard Chartered dalam penyampaian proyeksi ekonomi global dan domestik adalah Edward Lee, Chief Economist, ASEAN and South Asia, Standard Chartered dan Aldian Taloputra, Senior Economist, Standard Chartered Indonesia.

Menko Luhut menjelaskan, Realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia mencatat kinerja positif yang didukung oleh sektor hilir. Nilai total realisasi investasi, baik PMA maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), mencapai Rp 1.419 triliun pada 2023, 17% lebih tinggi dari realisasi tahun sebelumnya.

"Sedangkan total nilai realisasi investasi di sektor hilir mencapai Rp 375,4 triliun, menyumbang 26,5% dari seluruh realisasi investasi pada periode tersebut," kata dia dalam keterangan tertulis, Kamis (1/2/2024).

Selain itu, realisasi PMA di sektor lain di luar sektor hilir juga menunjukkan kinerja positif pada tahun 2023. Hal ini mencerminkan kepercayaan investor asing yang jauh lebih baik terhadap Indonesia.”

Sedangkan untuk tahun 2024, Luhut menjelaskan bahwa pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2%, dengan inflasi yang rendah dan stabil sekitar 2,5%.

Vice Chairman ASEAN & President Commissioner Indonesia Standard Chartered Rino Donosepoetro mengatakan, Laporan Global Focus – Economic Outlook 2024 menunjukkan bahwa Indonesia cukup tangguh dalam menghadapi gejolak perekonomian global.

"Melihat lintasan perekonomian Indonesia di tahun ini, Standard Chartered memperkirakan pertumbuhan PDB sebesar 5,2% di 2024, atau naik sedikit dari besaran 5,1% pada tahun sebelumnya.” jelas Rino.

Juga mengutip hasil laporan Standard Chartered yang menunjukkan bahwa konsumsi swasta yang lebih tinggi serta pertumbuhan investasi yang masih relatif kuat dapat mengimbangi permintaan eksternal yang lebih lemah di tahun 2024.