EmitenNews.com - Persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) kembali melanjutkan tren penurunan mingguan yang cukup signifikan. Berdasarkan data terbaru dari American Petroleum Institute (API) melalui Trading Economics, stok minyak mentah komersial AS merosot sebesar 6,072 juta barel pada pekan yang berakhir 26 Juni.

Penurunan ini memicu perhatian pasar energi global, termasuk Indonesia yang berstatus sebagai negara importir bersih minyak (net oil importer).

Penurunan tajam tersebut terjadi setelah persediaan minyak mentah komersial AS menyusut sebesar 765.000 barel pada pekan sebelumnya.

Dengan perkembangan terbaru ini, stok minyak mentah komersial AS, di luar Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve/SPR), tercatat telah berkurang sebanyak 59,4 juta barel selama sebelas pekan terakhir.

Meskipun terjadi penurunan besar dalam beberapa pekan terakhir, total persediaan minyak mentah AS sepanjang tahun berjalan ini secara akumulatif hanya berkurang sebesar 8 juta barel. Hal tersebut terjadi karena langkah pelepasan minyak dari SPR terus mengimbangi sebagian besar dari penurunan stok komersial tersebut.

Pada pekan yang sama, pemerintah AS menarik sebanyak 5,5 juta barel minyak dari SPR. Tindakan ini memangkas total kepemilikan cadangan strategis negara tersebut menjadi 325,7 juta barel. Angka kepemilikan tersebut kini berada di posisi 399 juta barel di bawah kapasitas penyimpanan maksimum yang dimiliki AS.

Pergerakan cadangan energi AS ini kerap menjadi acuan pergerakan harga minyak mentah dunia, yang secara tidak langsung berdampak pada penentuan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) serta beban subsidi bahan bakar minyak domestik.

Di sisi lain, produksi minyak mentah AS justru menunjukkan tren peningkatan. Pada pekan yang berakhir 19 Juni, volume produksi naik menjadi 13,819 juta barel per hari, dibandingkan pekan sebelumnya yang berada di angka 13,806 juta barel per hari.

Sementara itu, persediaan minyak di pusat pengiriman utama Cushing, Oklahoma, dilaporkan meningkat sebesar 503.000 barel. Penambahan stok di Cushing ini terjadi setelah wilayah tersebut sempat mengalami penurunan pasokan sebesar 982.000 barel pada pekan sebelumnya.(*)