Tahun Ini, BBCA Incar Kredit Berkelanjutan Melejit 8 Persen
:
0
ilustrasi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). dok/emitennews
EmitenNews.com - Bank Central Asia (BBCA) mematok pertumbuhan kredit berkelanjutan mencapai 8 persen sepanjang tahun ini. Di mana, sepanjang 2023, perseroan telah menyalurkan khusus green financing atau pembiayaan hijau Rp87 triliun.
"Untuk pembiayaan berhubungan dengan kendaraan listrik, jumlahnya sudah mencapai Rp1,4 triliun sepanjang tahun lalu," tutur Direktur Keuangan BCA, Vera Eve Lim, dalam KBSA Live Spesial di Youtube, Kamis (22/1).
Green financing telah mencapai pertumbuhan signifikan lima tahun terakhir. "Green financing tidak hanya berkaitan bisnis energi baru terbarukan (EBT), tetapi juga bisnis telah menetapkan prinsip-prinsip ramah lingkungan, termasuk kendaraan listrik," ujar Vera.
Secara keseluruhan, kredit berkelanjutan dengan nilai-nilai environmental, social, and governance (ESG) tahun lalu tumbuh 10,5 persen menjadi Rp202,6 triliun. Realisasi kredit sektor-sektor berkelanjutan itu, tumbuh di atas target 9 persen, dan berkontribusi 24,8 persen dari total kredit perseroan Rp810 triliun.
BCA juga mengantongi portofolio investasi pada obligasi/sukuk hijau Rp 1,6 triliun atau naik 332 persen. Selain itu, portofolio dengan prinsip ESG lain yaitu pembelian karbon 71.500 ton CO2, sebagai upaya mendukung penurunan emisi karbon Indonesia.
Tahun lalu, BCA diperkirakan telah mengurai emisi sekitar 3.000 ton CO2. Di antaranya melalui pengolahan 588 ton limbah operasional, digital banking, hingga implementasi gedung ramah lingkungang. "Tahun ini kami menargetkan kredit berkelanjutan bisa tumbuh mencapai 8 persen," jelas Vera.
Namun Vera mengakui perlu ada dukungan kebijakan negara secara maksimal agar pertumbuhan kredit berkelanjutan makin besar. Kebijakan negara soal renewable energy dan electric vehicle, harus terus didorong dan dimaksimalkan. Edukasi terhadap berbagai kalangan masyarakat juga harus terus digencarkan.
"Private sector tidak berjalan sendiri soal ini. Kalau demand semakin meningkat, maka kebutuhan pembiayaan berkelanjutan terhadap industri perbankan juga akan meningkat ke depan," pungkas Vera. (*)
Related News
Deretan Top Gainers di Tengah IHSG yang Merah, Apa Saja?
Komisaris Multitrend Indo (BABY) Borong 2,17 Juta Saham, Ini Sosoknya
Kinerja Memburuk, Tiga Pentolan Ini Lepas Jutaan Saham BYAN
Ironi Anggota Lawas MSCI, EXCL Berbalik Rugi 286 Persen Kuartal I 2026
Bali United Ternyata Ada Sahamnya, Kodenya BOLA
Pantau Saham dengan Dividend Yield Jumbo Mei 2026, Nyampe 20 Persen





