EmitenNews.com PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (BOLA), emiten pemilik klub sepak bola Bali United mengungkapkan tengah menjalani proses penjualan salah satu anak usaha tidak langsung atau indirect subsidiary.

Informasi tersebut disampaikan perseroan beriringan dengan permintaan tanggapan dari Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait volatilitas pergerakan saham BOLA beberapa waktu terakhir.

Corporate Secretary BOLA, Yohanes Ade Bunian Moniaga menjelaskan bahwa hingga saat ini perseroan tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material yang belum diungkap kepada publik dan dapat memengaruhi pergerakan harga saham BOLA.

Selain itu, perseroan juga tidak mengetahui adanya aktivitas dari pemegang saham tertentu yang berpotensi menjadi pemicu volatilitas transaksi saham BOLA.

Meski demikian, perseroan mengakui telah dalam proses penjualan indirect subsidiary, namun hal tersebut tidak termasuk sebagai transaksi material sesuai dengan POJK No 17/POJK.04/2020.

“Proses ini juga masih menunggu persetujuan dari OJK dalam waktu yang tidak bisa ditentukan oleh perseroan,” ujar Yohanes Ade, dikutip Sabtu (20/6).

Pada perdagangan Jumat (19/6) berdasarkan data Stockbit, saham BOLA ditutup menguat 1,27 persen atau naik 2 poin ke level Rp160, dan dalam sepekan terpantau menguat 23,08 persen atau naik 30 poin. Namun, jika ditilik secara year to date saham BOLA justru terpantau melemah 8,05 persen atau turun 14 poin.

Kinerja Keuangan BOLA

Sementara jika throwback ke sisi kinerja keuangan, PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (BOLA) mencatat pendapatan sebesar Rp77,86 miliar pada kuartal I 2026. Realisasi ini tumbuh 28,82% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp60,44 miliar.

Namun, pertumbuhan pendapatan belum mampu mengimbangi kenaikan beban operasional yang meningkat 17,30% menjadi Rp83,09 miliar dari Rp70,83 miliar pada kuartal I 2025. Akibatnya, rugi sebelum pajak melonjak 264,57% menjadi Rp102,86 miliar dari Rp28,22 miliar pada periode yang sama tahun lalu.