Tekanan Kuartal IV Tidak Ringan, Telisik Pemicunya
:
0
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026. Foto - Kemenkeu
EmitenNews.com - Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2026 sekitar 5,2 persen secara tahunan alias year-on-year (YoY). Proyeksi tersebut disampaikan menjelang rilis data produk domestik bruto (PDB) oleh Badan Pusat Statistik (BPS) minggu ini. Sepanjang 2026, pertumbuhan diperkirakan berada di kisaran 5,2–5,4 persen, dengan batas atas setara target APBN 5,4 persen.
Nah, dari sisi pembentuknya, pertumbuhan di atas 5 persen terutama ditopang konsumsi rumah tangga, penyumbang terbesar PDB, masih bertahan meski kehilangan momentum. Penjualan eceran riil kembali tumbuh 1,3 persen setelah terkontraksi pada kuartal II, tetapi pertumbuhan transaksi kartu dan uang elektronik melambat, dan keyakinan konsumen turun, meski masih zona optimistis. Pembedanya kuartal III ekspor manufaktur, mulai pulih, dan menahan perlambatan.
Namun, angka kuartal III solid belum mencerminkan tekanan sesungguhnya. Dampak terberat dari harga minyak, El Niño, dan kebakaran hutan diperkirakan baru terasa penuh pada kuartal IV, sementara ruang untuk stimulus tambahan terbatas karena beban subsidi energi berisiko naik, dan agenda prioritas nasional turut menyerap APBN. Dari sisi eksternal, konflik Timur Tengah, dan perlambatan ekonomi dunia mendorong harga minyak naik, dan menekan Indonesia sebagai negara pengimpor energi.
Harga minyak mentah Indonesia (ICP) rata-rata hampir USD92 per barel pada Januari–September 2026, jauh di atas asumsi APBN sebesar USD70. Dampaknya mulai terasa: pada Oktober, kelompok transportasi—terutama bensin—menyumbang 0,59 poin persentase inflasi tahunan. Imbasnya merambat ke neraca eksternal. Defisit transaksi berjalan melebar pada kuartal II, dan rupiah di kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (USD) membuat kebijakan harus memprioritaskan stabilitas makroekonomi.
Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan 100 basis poin menjadi 5,75 persen sepanjang tahun ini. Dalam situasi tersebut, Anggota Board of Advisors Prasasti sekaligus Gubernur Bank Indonesia 2003–2008, Burhanuddin Abdullah, menilai fungsi suku bunga telah bergeser. "Suku bunga bukan lagi sekadar alat pendorong pertumbuhan, melainkan jangkar kepercayaan. Pelonggaran yang terlalu dini bisa memicu tekanan pada rupiah, dan ongkosnya bagi pertumbuhan justru lebih mahal," ujarnya.
Dorongan Ekspor Manufaktur
Meski tekanan eksternal menguat, manufaktur mulai pulih. Research Director Prasasti Adhi N. Saputro mengatakan, pelemahan rupiah membuat produk Indonesia lebih kompetitif di pasar global, meski sekaligus menaikkan biaya bahan baku, dan impor energi. PMI Manufaktur S&P Global naik dari 52,4 pada September menjadi 54,0 pada Oktober 2026, tertinggi sejak Maret 2024, dengan pesanan ekspor baru tumbuh tercepat sejak survei dimulai pada 2011.
”Namun, survei yang sama mencatat biaya input naik lebih cepat akibat harga bahan bakar, sementara penyerapan tenaga kerja melambat. Di sisi lain, ekspor industri pengolahan naik 16,78 persen YoY pada September. Sepanjang kuartal III, kenaikan ekspor manufaktur terutama berasal dari produk turunan sawit dan elektronik. Kendati begitu, fondasinya belum kokoh. Investor asing mulai masuk manufaktur, tetapi investor domestik masih menahan diri—realisasi investasi dalam negeri turun 7,5 persen,” tegas Adhi.
Selama investasi domestik belum pulih, pemulihan manufaktur bergantung pada permintaan ekspor rentan terhadap perlambatan ekonomi dunia. Karena itu, Adhi menilai angka kuartal III perlu dibaca dengan memperhitungkan jeda waktu. "Angka kuartal III terlihat solid karena sebagian tekanan belum sepenuhnya merambat ke perekonomian. Ada jeda dari fluktuasi harga minyak, penurunan panen, dan karhutla. Dampaknya baru akan terasa penuh pada kuartal IV, tepat ketika ekonomi justru dituntut tumbuh lebih cepat," katanya.
Pemerintah Perlu Tetap Waspada
Related News
Hingga Rp283 Miliar, Singapura Naikkan Denda 900% Penyebab Kabut Asap
OJK Umumkan Sanksi Terbaru Tiga Kasus Pasar Modal, Ini Rinciannya
Hasil Pemilu AS Tekan Dolar, Rupiah Pagi ini Menguat 0,14%
Dolar AS Anjlok ke 101,5, Amunisi Bagi Rupiah Untuk Bangkit
Yield Obligasi AS 10 Tahun Turun ke 4,9% Investor Berburu Safe Haven
Pasar Tunggu Pemilu AS, Harga Emas Internasional dan Antam Memerah





