EmitenNews.com -Emiten petrokimia dan infrastruktur, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), mempercepat penyelesaian pembangunan pabrik Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon, Banten. Proyek dengan nilai investasi sekitar USD 892 juta tersebut ditargetkan rampung akhir 2026 dan mulai beroperasi pada kuartal I-2027.

Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat TPIA, Suryandi, mengungkapkan progres konstruksi telah mencapai 56%. Perseroan akan mengalokasikan belanja modal (capex) lebih besar pada tahun terakhir pembangunan, seiring fase konstruksi yang umumnya menyerap dana lebih tinggi.

Pabrik CA-EDC menjadi bagian dari strategi ekspansi untuk mendorong kapasitas produksi TPIA hingga 21 juta ton per tahun pada 2027. Pada 2025, kapasitas produksi tercatat 17,6 juta ton per tahun, melonjak dibanding 4,23 juta ton pada 2024, didorong ekspansi dan akuisisi fasilitas Aster Chemicals & Energy di Singapura.

Pada tahap awal operasi, pabrik CA-EDC ditargetkan memproduksi 827.000 ton soda kaustik dan 500.000 ton EDC per tahun. Produksi soda kaustik diproyeksikan mampu menggantikan impor hingga 827.000 ton per tahun dengan potensi penghematan sekitar USD 293 juta per tahun. Sementara itu, EDC akan difokuskan untuk pasar ekspor dengan potensi devisa sekitar USD 300 juta per tahun.

Secara industri, permintaan petrokimia domestik masih tumbuh dengan proyeksi compound annual growth rate (CAGR) sekitar 5% hingga 2038. Namun, margin industri dinilai masih tertekan akibat dinamika geopolitik, oversupply global, persaingan harga ketat, serta perlambatan ekonomi Tiongkok.

Menghadapi 2026 yang penuh tantangan, manajemen memilih memperkuat fundamental operasional dan menjaga keandalan fasilitas, khususnya di Cilegon dan Singapura. Gangguan operasional dinilai berisiko besar, dengan potensi kerugian hingga USD 3 juta per hari jika terjadi penghentian produksi di pabrik Cilegon.

Kinerja keuangan perseroan menunjukkan perbaikan signifikan. Hingga kuartal III-2025, TPIA membukukan laba bersih USD 1,65 miliar, melonjak 2.950% dibanding periode sama tahun sebelumnya yang merugi USD 58,5 juta. Pendapatan bersih mencapai USD 5,1 miliar, ditopang kontribusi lini kimia sebesar USD 2,7 miliar dan kilang USD 2,31 miliar. Perseroan juga mencatat belanja modal USD 355,5 juta dan total aset mendekati USD 11 miliar.

Di sektor energi, TPIA memperluas ekspansi regional melalui akuisisi jaringan ritel SPBU Esso milik ExxonMobil di Singapura. Selain itu, melalui lini infrastruktur, perseroan menambah armada kapal kimia, truk, serta memperluas portofolio energi surya menjadi 11 MWp.

Selain ekspansi bisnis, TPIA juga menyatakan akan memenuhi ketentuan regulator terkait batas minimal free float 15%. Perseroan termasuk dalam 49 emiten prioritas yang dipantau Bursa Efek Indonesia (BEI). Penambahan porsi saham publik akan dilakukan secara terukur dalam periode tiga tahun dengan mempertimbangkan kesiapan pasar dan struktur kepemilikan saham.

Dengan strategi ekspansi terintegrasi di sektor energi, kimia, dan infrastruktur, TPIA menargetkan penguatan posisi sebagai salah satu pemain petrokimia terbesar di Asia Tenggara sekaligus menciptakan nilai tambah berkelanjutan bagi pemegang saham.