EmitenNews.com - Besar sekali kebutuhan dolar dalam transaksi haji. Karena itu, stabilitas nilai tukar rupiah terhadap USD menjadi sangat penting bagi Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Agar stabilitas rupiah terjaga dan pengeluaran haji tak lagi terganggu oleh volatilitas nilai tukar rupiah, Kepala BPKH Fadlul Imansyah menyarankan kepada BI untuk membuka kesepakatan layanan local currency transaction (LCT) dengan Arab Saudi.

"Ini masukan. Sudah didiskusikan juga dengan pimpinan BI, tentang local currency transaction, BI sudah lakukan dengan beberapa negara," kata Fadlul Imansyah dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Sejak 2023, BI sudah berkomunikasi dengan pihak Arab Saudi untuk bisa menjajaki kerja sama transaksi penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT).

Sejauh ini, sejumlah negara sudah memperoleh kesepakatan pemanfaatan LCT dengan Indonesia. Transaksi tanpa perlu dolar AS itu, bisa dengan Malaysia, Thailand, Jepang, China, Singapura, Korea Selatan, India, dan United Arab Emirates (UAE)

Stabilitas kurs menjadi sangat penting karena pengeluaran haji tiap tahunnya bisa mencapai Rp20 triliun. Anggara sebanyak itu, dipakai untuk keperluan transportasi hingga akomodasi. Nah, 80% dari nilai pengeluaran itu dalam bentuk dolar AS.

"Sekitar 80% dari Rp20 triliun itu berbasis US dolar dan Saudi Real. Seandainya kita bayar pakai rupiah, di sana terimanya saudi real atau US dolar jadi kita gak harus berkompetisi dengan importir, seperti Pertamina, PLN, segala macam yang butuh US dolar besar," ucapnya.

Bila skema LCT ini bisa dicapai antara bank sentral Indonesia dengan Arab Saudi, maka kebutuhan permintaan dolar tak lagi besar tiap tahunnya. Sebab, dari pengeluaran haji bisa langsung menggunakan mata uang rupiah, tanpa harus menukar terlebih dahulu dengan dolar.

"Jadi kita enggak perlu ada permintaan terhadap US dolar. Infonya, sekarang bank sentral Indonesia dengan Saudi sedang dalam proses MoU, itu PR terbesar. Lumayan lah kontribusi terhadap pergerakan rupiah itu bisa lebih stabil kalau kita enggak harus beli dolar atau real dalam setiap tahun," papar Fadlul Imansyah. ***