EmitenNews.com - Maskapai penerbangan Vietnam Airlines menerapkan strategi pengetatan biaya dan optimalisasi rute demi menjaga profitabilitas pada tahun 2026, meskipun dihadapkan pada lonjakan harga bahan bakar jet akibat gejolak geopolitik global.

Presiden dan CEO Vietnam Airlines, Le Hong Ha, sepeBigGo Finance mengungkapkan bahwa operasi maskapai negara tersebut sangat terpengaruh kenaikan harga bahan bakar jet akibat konflik Timur Tengah sejak April lalu. Harga rata-rata bahan bakar Jet A1 pada tahun 2026 diperkirakan mencapai USD 128,54 per barel, melonjak hampir 48 persen dibandingkan level tahun 2025. Kenaikan variabel tunggal ini diproyeksikan menambah beban biaya bahan bakar hingga sebesar 11,9 triliun dong.

Selain avtur, maskapai milik negara Vietnam ini menghadapi tantangan berupa peningkatan biaya perawatan, logistik global, kepatuhan lingkungan untuk transisi hijau, dan fluktuasi nilai tukar mata uang asing. Kondisi tekanan eksternal serupa akibat tingginya biaya avtur dan pelemahan mata uang juga menjadi tantangan utama bagi maskapai penerbangan yang sudah go publik di Indonesia, seperti PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap komponen biaya operasional tersebut.

Guna memitigasi risiko operasional, Vietnam Airlines mengoptimalkan utilitas armada serta memperluas jaringan rute internasional baru ke Amsterdam, Phuket, dan Colombo. Momentum pelonggaran harga terjadi setelah adanya kesepakatan gencatan senjata Amerika Serikat dan Iran pada bulan Juni yang membuka kembali Selat Hormuz, sehingga menurunkan harga avtur ke kisaran USD 112 hingga USD 115 per barel.

Dengan asumsi harga rata-rata semester kedua sekitar USD 120 per barel, perusahaan memproyeksikan perolehan laba sebelum pajak konsolidasi sebesar 510 miliar dong dan 101 miliar dong untuk perusahaan induk.

“Meskipun angka-angka ini jauh lebih rendah daripada kinerja kuartal pertama kami, angka-angka ini mencerminkan upaya kuat kami untuk mengoptimalkan biaya dan menanggapi lingkungan operasional yang sangat menantang,” kata Ha dalam rapat umum pemegang saham tahunan.

Secara keseluruhan, Vietnam Airlines Group menargetkan pengangkutan 27,73 juta penumpang dan 361.400 ton kargo, yang masing-masing tumbuh 8,1 persen dan 6,2 persen dari tahun 2025. Pendapatan konsolidasi grup tersebut diproyeksikan mencapai 138,9 triliun dong atau meningkat lebih dari 12 persen.(*)