Wall Street Anjlok, IHSG Susuri Zona Merah
Suasana main Hall Bursa Efek Indonesia. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street akhir pekan lalu kembali ditutup melemah. Itu seiring lonjakan harga minyak mentah, dan data tenaga kerja melemah. Harga minyak mentah jenis WTI mengakhiri perdagangan selama sepekan dengan mencatat lonjakan 35 persen di atas level USD90 per barel. Kenaikan mingguan itu, merupakan terbesar sejak 1983.
Kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan seiring eskalasi konflik militer Timur Tengah menjadi sentimen utama. Berdasar data Biro Ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) Februari 2026 ada penurunan jumlah pekerja 92 ribu dari edisi Januari 2026 dengan penambahan jumlah pekerja 126 ribu, dan konsensus ekonom 50 ribu.
Tingkat pengangguran naik menjadi 4,4 persen dari sebelumnya 4,3 persen. Koreksi mayoritas indeks bursa Wall Street, lonjakan harga minyak mentah dikhawatirkan mendorong kenaikan inflasi, dan aksi jual investor asing berlanjut diprediksi menjadi sentimen negatif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG).
So, indeks diprediksi melanjutkan pelemahan dengan kisaran support 7.475-7.365, dan resistance 7.700-7.810. Berdasar data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menyarankan para investor mengoleksi saham ITMG, ADRO, AADI, PTBA, UNTR, dan WIIM. (*)
Related News
Lippo dan Danantara Mulai Garap Rusun Subsidi di Meikarta
Produksi Minyak Sumur Banyu Urip Melejit Dari 4.800 ke 12.300 BOPD
Harga Pakan Turun, Kementan Pastikan Biaya Produksi Makin Efisien
HIP BBN Bioetanol Maret 2026 Ditetapkan Rp7.949 per Liter
Tingkatkan Keselamatan Angkutan Lebaran, Kemenhub Ramp Chek Semua Moda
PLN NPC Rampungkan Dua Proyek Elektrifikasi Kereta Cepat Malaysia





