EmitenNews.com - Mengawali perdagangan November 2026, indeks bursa Wall Street ditutup bervariasi mayoritas melemah. Itu seiring aksi rotasi investor dari saham sektor teknologi ke sektor lain. Saham Marvell Technology terkoreksi signifikan hingga 12,72 petelah mengumumkan telah membeli Lumentum seharga USD115 miliar.

Emiten lainnya terkoreksi cukup dalam yaitu Oracle 8,76 persen setelah mengumumkan rencana untuk menerbitkan saham biasa baru, dan obligasi masing-masing senilai USD10 miliar untuk membiayai pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Beberapa saham non teknologi mendapat limpahan dari rotasi sektor teknologi, dan kembali membukukan penguatan sebagai berikut.

Yaitu, Sherwin-Williams melejit 5,94 persen, Home Depot menguat 3,63 persen, Honeywell International melenting 2,49 persen, 3M melangit 2,31 persen, dan Boeing menanjak 2,24 persen. Koreksi mayoritas indeks bursa Wall Street, dan aksi jual investor asing berlanjut diprediksi akan menjadi sentimen negatif di pasar.

Sementara itu, lonjakan harga komoditas mineral logam, dan respons investor terhadap laporan keuangan emiten berpeluang menjadi katalis positif untuk indeks harga saham gabungan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung menguat dengan kisaran support 5.040-4.980, dan resistance 5.155-5.210.

Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menyarankan investor mengoleksi saham Erajaya Swadaya (ERAA), Astra International (ASII), Pertamina Gas Negara (PGAS), Jasa Marga (JSMR), Alamtrie Mineral (ADMR), dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI). (*)