EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup anjlok 7,35 persen menjadi 8.320. Tekanan jual terjadi setelah pengumuman Morgan Stanley Capital  International (MSCI) membekukan sementara proses rebalancing indeks saham-saham Indonesia, termasuk membekukan sejumlah perubahan indeks review bulan Februari 2026. 

Bahkan perdagangan sempat mengalami trading halt selama 30 menit karena indeks sempat melemah 8 persen pada perdagangan sesi II. Net foreign sell di pasar reguler tercatat sebesar Rp6,12 triliun. Investor masih fokus pada perkembangan isu MSCI. Pasalnya, kalau sampai Mei 2026 tidak ada kemajuan akan sangat rawan.

Tersebab, MSCI akan meninjau ulang status aksesibilitas pasar Indonesia, yang dapat berpotensi pada penurunan bobot saham Indonesia MSCI Emerging Markets menjadi Frontier Market. Itu memicu aksi sell-off investor, khususnya investor asing. Kalau terjadi, berpotensi dana investor asing keluar akan lebih banyak.

Selain itu, juga dapat berdampak pada likuiditas pasar menurun, persepsi risiko negara memburuk, biaya pendanaan dihadapi pemerintah, dan korporasi akan lebih tinggi. Otoritas sudah menyampaikan pernyataan merespon hal tersebut. Namun, seberapa lama dan seberapa besar dampak kebijakan MSCI terhadap pasar modal Indonesia, akan tergantung pada bagaimana respon otoritas pasar modal menindaklanjutinya dengan cepat. 

Secara teknikal, indeks berpotensi menguji level 8.250-8.000. Waspadai jika indeks menembus level psikologis 8.000, berpotensi dapat menguji level 7.850. Namun jika tekanan jual mereda, investor dapat mencermati saham komoditas. Menilik data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan investor menoleksi saham MBMA, MEDC, AKRA, INDY, dan MDKA. (*)