EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup anjlok 1,7 persen menjadi 5.839. Sebelumnya, IHSG sempat melemah hingga menyentuh level 5.644. Tekanan jual berlanjut dari perdagangan sehari sebelumnya akibat marak beragam rumor pasar domestik di tengah ketidakpastian, dan rendahnya kepercayaan investor. 

Rupiah ditutup terkoreksi 0,45 persen menjadi Rp18.020 per dolar Amerika Serikat (USD). Secara teknikal, terjadi pelebaran histogram negatif MACD, dan Stochastic RSI membentuk death cross. Meski pelemahan IHSG berkurang dari level terendah harian, namun diperkirakan pergerakan IHSG masih akan fluktuatif cenderung melemah, dan menguji support 5.700-5.800. 

DPR mengesahkan RUU tentang Perubahan atas UU No.4 Tahun 2023 mengenai Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) menjadi UU. Itu merupakan kelanjutan dari reformasi besar sektor keuangan Indonesia. UU itu, memperkuat mandat Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan pengaturan pasar modal, termasuk rencana demutualisasi BEI, dan peningkatan integritas transaksi.

Dengan penerapan UU tersebut, diharap likuiditas pasar juga akan berpotensi meningkat, seiring dengan perluasan peran bank di pasar modal, penguatan lembaga keuangan, instrumen pasar, dan produk pasar modal makin beragam. Transparansi, tata kelola diperketat, dan perlindungan investor diharap menjadi lebih kuat.

UU P2SK juga akan mengatur Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk menerbitkan surat utang khusus, yakni Patriot Bond dan Merah Putih Bond. Penerbitan obligasi tersebut dimaksudkan untuk memperluas sumber pendanaan jangka panjang bagi proyek-proyek strategis nasional sekaligus memperkuat kapasitas investasi Danantara.

Sementara itu, Danantara juga berencana akan menerbitkan surat utang global senilai USD5 miliar. Obligasi tersebut telah diberi peringkat Baa2 dengan outlook negatif oleh Moody's. Penerbitan surat utang Danantara itu, diharap dapat memperdalam struktur modal nasional, dan membiayai program pembangunan tanpa membebani APBN.

Berdasar data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan para pelaku pasar untuk mengoleksi sejumlah saham unggulan berikut. Yaitu, Alamtri Indonesia (ADRO), Anka Tambang (ANTM), Merdeka Copper Gold (MDKA), Timah (TINS), dan Vale Indonesia (INCO). (*)