EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan pada awal pekan seiring mulai berlakunya komposisi baru indeks likuiditas Bursa Efek Indonesia (BEI), yang mendorong aksi beli dari pengelola dana pasif seperti reksa dana indeks dan exchange traded fund (ETF).

Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengatakan saat ini posisi IHSG sedang berada pada bagian awal dari wave v dari wave c dari wave [iv], yang berarti ada peluang melanjutkan penguatan dengan target 6.352 hingga 6.545.

Sebelumnya diketahui, IHSG berhasil menutup bulan Juli di zona hijau. Pada perdagangan terakhir, IHSG ditutup menguat 0,80% ke 6.235 kendati disertai tekanan jual.

“Cermati juga akan adanya potensi pembalikan arah dalam jangka pendek ke rentang 6.108-6.187,” ujar Herditya.

Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, sejumlah sentimen domestik dan global akan mempengaruhi pergerakan IHSG pada awal bulan Agustus. Ia mengatakan implementasi rebalancing indeks Bursa Efek Indonesia (BEI) di awal bulan berpotensi meningkatkan likuiditas perdagangan di pasar reguler melalui alokasi ulang portofolio investor institusi.

"Mulai berlakunya komposisi baru indeks likuiditas BEI memicu alokasi ulang dan aksi beli dari pengelola dana pasif seperti reksa dana indeks dan ETF, yang memberikan suntikan likuiditas harian di pasar reguler," ujarnya dalam riset harian, Senin (3/8).

Selain itu, musim laporan keuangan semester I 2026 yang masih berlangsung turut menjadi penopang sentimen pasar. Menurut Nafan, sejumlah emiten berkapitalisasi besar telah membukukan kinerja yang relatif solid sehingga berpotensi menjaga minat beli investor.

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga menantikan rilis data inflasi Juli 2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Berdasarkan konsensus pasar, inflasi diperkirakan tetap berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5% ±1%, sehingga dinilai mampu menjaga ekspektasi terhadap daya beli masyarakat maupun stabilitas suku bunga acuan.

Di saat yang sama, pasar masih dibayangi ketidakpastian terkait kepemimpinan Bank Indonesia setelah pengunduran diri Perry Warjiyo. Investor disebut akan mencermati arah kebijakan moneter sementara serta proses penunjukan gubernur definitif, mengingat isu independensi bank sentral menjadi perhatian investor global.

Selain inflasi, BPS juga dijadwalkan merilis data neraca perdagangan Indonesia periode Juni 2026. Konsensus memperkirakan neraca perdagangan kembali mencatat defisit sekitar USD0,79 miliar.