1. EmitenNews.com - Aksi jual obligasi pemerintah global semakin masif pada Selasa (1/9/2026). Kondisi ini mendorong biaya pinjaman di beberapa negara ekonomi utama dunia melonjak ke tingkat tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.

Lonjakan imbal hasil (yield) obligasi dipicu oleh pembengkakan defisit anggaran negara-negara maju, laju inflasi yang persisten, lonjakan penerbitan utang perusahaan teknologi, serta eskalasi perang di Iran yang mendorong harga minyak mentah Brent naik di atas USD93 per barel. Kenaikan biaya energi ini memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga acuan global.

Berdasarkan laporan The Globe and Mail, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) tenor 10 tahun melesat hingga sempat menyentuh level 4,8 persen, merupakan titik tertinggi sejak Januari 2025. Sementara itu, yield obligasi 10 tahun Jepang melonjak di atas 3 persen untuk pertama kalinya sejak 1996, serta obligasi Inggris dan Jerman masing-masing menyentuh level tertinggi sejak 2007 dan 2011.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent meremehkan pergerakan pasar tersebut saat menghadiri pertemuan Kelompok 20 (G20) di Asheville, North Carolina. "Saya rasa kita tidak berada dalam situasi yang mengerikan," ujar Scott Bessent dalam wawancara dengan Fox Business.

Meski demikian, para pelaku pasar tetap mencermati risiko inflasi dan pembengkakan utang publik AS yang mencapai USD40 triliun. Manajer portofolio di Columbia Threadneedle, Ed Al-Hussainy, menilai seluruh faktor pasar saat ini bergerak searah menuju pengetatan moneter.

"Satu-satunya hal yang dapat kita katakan saat ini adalah bahwa semuanya mengarah ke arah yang sama, yaitu ke arah suku bunga yang lebih tinggi, dan hal itu terjadi secara global," kata Ed Al-Hussainy.

Di sisi lain, ahli strategi RBC Capital Markets di London, Peter Schaffrik, menekankan peran pasar keuangan dalam menekan kebijakan fiskal pemerintah. "Ini adalah kisah global. Anda membutuhkan semacam faktor disiplin, dan itu mungkin adalah pasar obligasi," tutur Peter Schaffrik.

Lompatan yield obligasi global dan kenaikan harga minyak ke kisaran USD93 per barel ini membayangi pasar keuangan Indonesia. Tren kenaikan biaya utang dunia berpotensi meningkatkan imbal hasil surat berharga negara (SBN), memperberat beban pengolahan penerbitan utang baru APBN, serta menahan laju penguatan nilai tukar Rupiah di tengah ancaman capital outflow.(*)