EmitenNews.com - Guncangan dari saham semikonduktor Amerika Serikat menyebar ke pasar saham Korea Selatan pada perdagangan pra-pasar Senin (2/11). Saham raksasa chip Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing merosot sekitar 4 persen.

Pergerakan ini menyusul penurunan tajam saham Intel yang anjlok 28,58 persen di pasar New York pada Jumat (30/10), memicu aksi jual besar-besaran di seluruh sektor teknologi.

Berdasarkan data Nextrade saham Samsung Electronics diperdagangkan pada harga 216.000 won atau sekitar USD160, turun 4,00 persen dari sesi sebelumnya. Sementara itu, saham SK Hynix berada di harga 1,364 juta won atau sekitar USD1000, melemah 3,81 persen.

Penurunan Intel sebesar 28,58 persen tercatat sebagai penurunan harian terbesar dalam 52 tahun terakhir akibat proyeksi pendapatan kuartal keempat sebesar USD15 miliar hingga USD16 miliar yang berada di bawah perkiraan pasar.

Analis Mirae Asset Securities, Seo Sang-young, memaparkan penyebab tekanan modal di pasar Asia tersebut. "Prakiraan Kioxia tentang melambatnya kenaikan harga NAND dan kekhawatiran atas risiko kredit Anthropic, yang belum tercermin di pasar Korea Selatan, akan membebani sentimen investor pada 2 November," kata Seo Sang-young.

Ia menambahkan bahwa penurunan 7,20 persen pada Indeks Semikonduktor Philadelphia di pasar Amerika Serikat turut menjadi beban berat bagi sentimen global.

Guncangan sektor teknologi global ini turut membayangi stabilitas ekonomi di Indonesia. Penurunan tajam indeks saham acuan global berpotensi menular ke Pasar Modal Indonesia melalui koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), khususnya pada saham-saham berbasis teknologi dan manufaktur.

Selain itu, aksi lepas portofolio oleh investor asing di pasar Asia dapat memicu penarikan modal keluar (capital outflow) yang berisiko menekan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS.(*)