AS Tolak Proposal Iran, IHSG Lanjut Tertekan
:
0
Suasana main hall Bursa Efek Indonesia. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street akhir pekan lalu ditutup menguat. Kondisi itu, mengantarkan S&P dan Nasdaq kembali mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah untuk kali kesekian. Itu seiring data nonfarm payrolls April 2026 lebih baik dibanding ekspektasi di tengah ketidakpastian hasil perundingan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Berdasar laporan Badan Statistik Ketenagakerjaan AS, pada April lalu terdapat penambahan jumlah pekerja 115 ribu, turun dari bulan sebelumnya 185 ribu. Namun, jauh lebih tinggi dari konsensus ekonom dengan mengharapkan penambahan jumlah pekerja 55 ribu. Dengan penambahan itu, tingkat pengangguran bertahan di level 4,3 persen.
Rencana pemerintah menerapkan perubahan kebijakan royalti untuk komoditas mineral logam, dan akasi jual masif investor asing diprediksi menjadi sentimen negatif pasar. Sementara itu, pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump proposal Iran tidak bisa diterima berpeluang menjadi tambahan sentimen negatif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG).
So, IHSG diprediksi melanjutkan pelemahan dengan kisaran support 6.875-6.780, dan resistance 7.065-7.160. Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham Map Aktif (MAPA), Medco (MEDC), Indosat (ISAT), Telkom (TLKM), Mayora (MYOR, dan Gudang Garam (GGRM). (*)
Related News
CIMB Niaga Ganjar Pejuang Mimpi dengan OCTO
Top Losers Sepekan, Eks Saham Gocap Dominasi! DADA hingga GOTO
10 Saham Top Gainers Sepekan, BSWD, CSMI hingga UVCR
DJP Tunjuk Enam Issuer Tarik PPN Digital Luar Negeri
IHSG Sepekan Melorot 3,28 Persen, Market Cap Bursa Turun Jadi Segini
Marak Lagi, Komdigi-Polri Usut Penyebaran Data Pribadi Ilegal Kementer





