EmitenNews.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai kondisi pasar saham di Indonesia mulai membaik memasuki semester II tahun 2026. Hal itu terlihat dari nilai transaksi perdagangan yang tercatat tumbuh 24,6% ytd, dengan frekuensi transaksi naik 41,9% dan volume transaksi meningkat30,3% ytd hingga Juli 2026.

Senior Analyst BEI, Fikrian Naufal H mengatakan bahwa fundamental Indonesia masih relatif kuat di tengah tekanan sepanjang tahun berjalan. Ia mengatakan, pelemahan yang sempat menghantam pasar saham atau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) disebabkan oleh berbagai sentimen global dan domestik. Seperti, ketegangan geopolitik, risiko inflasi, arah suku bunga global, hingga reli saham tekonlogi berbasis Artificial Intelligence.

Sedangkan dari domestik, Fikrian menyebutkan bahwa sejumlah isu masih menajdi perhatian pelaku pasar, mulai dari risiko fiskal, pelemahan rupiha, arah kebijakan Bank Indonesia, perkembangan MSCI, hingga rencana kebijakan ekspor satu pintu untuk sejumlah komoditas strategis.

“Secara fundamental, kondisi Indonesia masih sangat baik. Jika dibandingkan dengan periode krisis seperti 1998, posisi suku bunga saat ini masih jauh lebih terkendali,” ujar Fikrian dalam forum Media Connect di Jakarta, Jumat (7/8).

Ia juga mengatakan, setelah IHSG mencetak rekor all-time high di level 9.134,80 pada 20 Januari 2026 lalu, tekanan terus melanda hingga membuat indkes terkoreksi ke 6.236,13 pada 31 Juli 2026. Kendati demikian, ia mengatakan, kondisi pasar saat ini relatif membaik, diiringi meningkatnya jumlah investor pasar modal yang mencapai lebih dari 30 juta.

Bahkan, dalam sepekan yakni 3-7 Agustus 2026, IHSG ditutup menguat ke posisi 6.409,654 naik 2,78% dibandingkan posisi pekan sebelumnya di 6.236,126. Penguatan itu disertai dengan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) yang meningkat 2,64% menjadi Rp11.212 triliun dibandingkan pekan sebelumnya di posisi Rp10.923 triliun.

Sementara itu, Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama, Tae Yong Shim mengingatkan pentingnya literasi dan perencanaan keuangan berbasis siklus hidup atau lifecycle financial planning di tengah fluktuasi pasar. Menurutnya, terdapat tiga hal mendasar yang perlu dipahami dalam perencanaan keuangan, meliputi inflasi, rendahnya suku bunga, dan pajak.

Di sisi lain, ia juga menyebutkan pentingnya mengelola pengeluaran sebagai bagian dari strategi membangun kekayaan. Sehingga, meskipun seseorang tidak selalu dapat mengendalikan pendapatan maupun return dari pasar, tapi sisi pengluaran dan waktu investasi menjadi dua hal yang lebih leluasa untuk dikelola.

“Setiap orang memiliki tujuan yang berbeda, dan dalam perencanaan keuangan, waktu adalah salah satu aset yang paling penting,” ujar Shim.