Berbagi Peran Pemerintah-Danantara, Bayar Utang Whoosh dari APBN
:
0
Pembayaran kewajiban utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh akan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dok. Sekretariat Negara.
EmitenNews.com - Pemerintah memutuskan pembayaran kewajiban utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh akan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Janji untuk tidak memakai dana APBN, setidaknya seperti dibahasakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, apa boleh buat tak terpenuhi. Pemerintah mengalokasikan Rp1,2 triliun per tahun sampai utang itu lunas.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memastikan pembayaran kewajiban utang Whoosh menggunakan APBN itu, menjawab wartawan usai acara pengumuman stimulus ekonomi dalam liburan Idulfitri 2026, di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (10/2/2026).
Mensesneg Prasetyo menjelaskan, meski sumber pendanaan telah dipastikan berasal dari APBN, pembahasan teknis pelaksanaannya masih belum final. Proses tersebut saat ini masih berada dalam tahap negosiasi dan pembicaraan teknis lanjutan.
"Belum final. Laporan terakhir rapat di Danantara, masih ada finalisasi nanti. Sekarang proses negosiasi atau pembicaraan teknis yang langsung dipimpin oleh CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani," tambah Prasetyo Hadi.
Pernyataan Prasetyo ini merespons pernyataan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Bobby Rasyidin yang menyebut persoalan utang proyek kereta cepat telah memperoleh solusi dan jaminan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
Seperti ramai diberitakan, Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh dibangun dengan total nilai investasi sekitar USD7,2 miliar termasuk pembengkakan biaya (cost overrun) sekitar USD1,21 miliar dari rencana awal.
Nah, sekitar 75 persen pembiayaan megaproyek tersebut berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB). Sisanya merupakan setoran modal para pemegang saham konsorsium.
Sebelumnya Presiden Prabowo Subianto menyatakan pemerintah siap bertanggung jawab atas keberlanjutan proyek tersebut, termasuk kewajiban pembayaran sekitar Rp1,2 triliun per tahun.
Prabowo menilai proyek kereta cepat memiliki manfaat publik yang besar. Mulai dari pengurangan kemacetan, polusi, hingga alih teknologi, sehingga tidak semata-mata dinilai dari untung dan rugi.
Pernyataan Presiden itu mengemuka setelah ramai pembahasan soal utang Whoosh berkaitan dengan pernyataan Menkeu Purbaya yang secara terbuka menyatakan tidak ingin APBN digunakan untuk membayar utang Whoosh.
Related News
Lima Sektor Ini Paling Gencar Ekspansi Kredit Permodalan di Perbankan
Langkah Terbaru Prabowo, 750 Dirut BUMN akan Kehilangan Jabatan
Turki Salip Indonesia Jadi Ekonomi Muslim Terbesar? Ini Data IMF 2025
Horee! KRL Bakal Berhenti Lagi di Stasiun Gambir
Biaya Memori Bengkak, Apple Lobi Trump Izin Beli Chip CXMT China
Harga Emas Antam Sabtu Naik Rp5.000, Buyback Dekati Rp2,4 Juta/Gram





