EmitenNews.com - Presiden RI Prabowo Subianto resmi memulai pembangunan fisik Proyek Strategis Nasional (PSN) LNG Abadi Masela senilai USD 20,9 miliar di Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7).

Langkah penting ini menjadi sentimen positif jangka panjang bagi ketahanan energi nasional sekaligus sektor komoditas di pasar keuangan. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), proyek raksasa yang sempat tertunda dua dekade ini diproyeksikan memberikan kontribusi besar dengan menyumbang hingga USD 137,8 miliar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional saat beroperasi.

Selain itu, Lapangan Abadi Masela diperkirakan mendongkrak Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Maluku sebesar USD 95 miliar dan PDRB Kabupaten Kepulauan Tanimbar sebesar USD 92 weber miliar. Pemerintah juga memberikan hak kelola daerah melalui Participating Interest (PI) sebesar 10 persen kepada BUMD Provinsi Maluku untuk memperkuat kapasitas fiskal daerah.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa proyek gas alam cair terintegrasi ini dirancang untuk memberikan dampak ekonomi yang luas, termasuk serapan tenaga kerja lokal.

"Proyek Abadi Masela diproyeksikan memberikan manfaat ekonomi dan fiskal yang signifikan, antara lain penerimaan nasional maupun daerah serta penciptaan lapangan pekerjaan yang 30%nya akan diprioritaskan berasal dari masyarakat lokal Maluku dan Kabupaten Kepulauan Tanimbar," ujar Bahlil.

Bahlil menambahkan, proyek ini akan memasok gas pipa domestik sebesar 150 MMSCFD untuk kebutuhan industri nasional serta mendorong pertumbuhan bisnis pendukung dan UMKM setempat.

Presiden Prabowo Subianto yang hadir secara daring dari Istana Negara menegaskan bahwa pembangunan fisik ini tidak boleh terhambat karena sudah dinantikan oleh rakyat selama tiga dasawarsa. Sementara itu, Bupati Kepulauan Tanimbar Ricky Jauwerissa optimistis proyek ini akan mempercepat pengentasan kemiskinan dan infrastruktur melalui penyerapan lebih dari 12.000 tenaga kerja pada puncak masa konstruksinya.

Bagi investor di Bursa Efek Indonesia (BEI), bergulirnya proyek jumbo senilai puluhan miliar dolar AS ini menjadi katalis penggerak untuk saham-saham di sektor energi, gas, serta infrastruktur pendukung dalam jangka menengah hingga panjang, seiring dengan meningkatnya pasokan gas industri domestik secara masif.(*)