EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia melonjak hingga menembus level USD102 per barel pada Jumat (2/10) akibat meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah. Lonjakan harga energi global ini memicu kewaspadaan di dalam negeri terkait potensi pembengkakan beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) serta tekanan inflasi di Indonesia.

Berdasarkan data Trading Economics pada Jumat (2/10), minyak mentah Brent diperdagangkan di atas USD102 per barel setelah mencatatkan kenaikan selama dua sesi berturut-turut. Sementara itu, jenis minyak mentah AS diperdagangkan di kisaran USD93 per barel di tengah kecemasan pasar atas potensi gangguan pasokan energi regional.

"Pentagon juga mempertimbangkan pengerahan 10.000 pelaut dan Marinir ke Teluk Persia, memberi Presiden Donald Trump pilihan tambahan jika ia memutuskan untuk mengintensifkan serangan terhadap Iran," tulis Trading Economics dalam laporannya pada Jumat (2/10).

Kenaikan harga dipicu oleh langkah AS yang mempertimbangkan pengiriman kapal induk tambahan ke Timur Tengah, yang memperbesar risiko eskalasi konflik dengan Iran. Trump dilaporkan telah menyampaikan kepada para pembantunya mengenai harapan untuk melanjutkan pemboman terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu pada November mendatang.

Meskipun aliran minyak mentah dari Timur Tengah sempat pulih ke tingkat sebelum perang, pasar tetap ragu pemulihan tersebut dapat bertahan tanpa adanya kesepakatan damai yang langgeng. Ketidakpastian makin memuncak setelah sedikitnya tiga kapal tanker diserang saat melewati Selat Hormuz pekan ini, di mana Iran dan sekutu Houthi juga menargetkan kilang-kilang minyak di wilayah tersebut.

Bagi Indonesia yang berstatus sebagai negara net importir minyak, lonjakan harga minyak mentah internasional ini memberikan tantangan serius bagi stabilitas fiskal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Lonjakan harga Brent hingga melampaui USD100 per barel berisiko meningkatkan biaya impor minyak mentah dan memperlebar defisit transaksi berjalan nasional.(*)