EmitenNews.com - PT Samuel Sekuritas Indonesia menilai pasar saham Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan domestik yang membuat kinerjanya tertinggal dibandingkan mayoritas pasar negara berkembang (emerging market).

Dalam paparan Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia, Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama, Tae Yong Shim, mengungkapkan bahwa Indonesia menjadi salah satu pasar dengan kinerja terlemah secara year-to-date (YTD).

Berdasarkan data Samuel Sekuritas, indeks MSCI Emerging Market mencatat kenaikan 22,5% secara YTD, lebih tinggi dibandingkan MSCI World yang tumbuh 9,0%. Berbanding terbalik, pasar saham Indonesia justru terkoreksi hingga 29,1% pada periode yang sama.

"Emerging market secara umum sedang bergerak positif, tetapi Indonesia justru bergerak berlawanan arah. Ketika MSCI EM naik 22,5% dan MSCI World naik 9,0%, pasar Indonesia masih turun 29,1%. Ini menunjukkan tekanan di pasar domestik masih cukup kuat," ujar Tae Yong.

Menurutnya, salah satu faktor utama yang menekan pasar domestik adalah masih munculnya perhatian MSCI terhadap aspek free float dan investability pasar modal Indonesia.

Dalam tinjauan MSCI Mei 2026, sejumlah pembatasan masih dipertahankan, seperti tidak adanya kenaikan bobot saham Indonesia, tidak ada penambahan saham baru ke dalam indeks MSCI, serta tidak adanya peningkatan status saham dari kategori Small Cap ke Standard Index.

"Isu MSCI menjadi penting karena berdampak langsung terhadap persepsi investor global. Ketika transparansi free float dan investability masih dipertanyakan, investor cenderung menunggu bukti perbaikan sebelum kembali masuk lebih agresif ke pasar Indonesia," jelasnya.

Selain itu, MSCI juga disebut berpotensi menghapus saham dengan kategori High Shareholding Concentration (HSC), sekaligus menggunakan data pemegang saham di atas 1% untuk meninjau kembali porsi free float emiten.

Sejumlah emiten sebelumnya telah terdampak revisi MSCI pada Mei 2026, antara lain AMMN, TPIA, DSSA, BREN, dan CUAN, yang bobotnya turun menjadi nol setelah dikeluarkan dari indeks standar MSCI.

Selain isu MSCI, Tae Yong juga menyoroti tekanan nilai tukar rupiah yang dinilai menambah kehati-hatian investor.