BYD dkk Sukses KO Mobil Jepang dan Eropa, Laba Terjungkal
:
0
Laba pabrikan mobil China seperti Geely, BYD dan lainnya tidak beriringan dengan langkah ekspansi mereka ke sejumlah negara. Foto: BYD
EmitenNews.com - Laporan pendapatan kuartal pertama 2026 yang dirilis oleh produsen-produsen besar mobil China seperti BYD, Geely dan kawan-kawan (dkk) menyisakan pertanyaan yang menggelitik untuk disorot. Mereka dalam beberapa tahun terakhir terlihat sangat perkasa di sejumlah negara mengalahkan pemain otomotif lama asal Jepang, Amerika dan Eropa.
Namun laba perusahaan dari produsen-produsen besar mobil China tersebut ternyata tidak beriringan dengan langkah ekspansi jor-joran yang mereka dilakukan di sejumlah negara.
Media China CnEVPost (30/4/2026) menyoroti tantangan baru yang umum dihadapi pada produsen mobil China: seiring dengan pesatnya ekspansi bisnis di luar negeri, fluktuasi nilai tukar yuan secara signifikan memengaruhi laba buku perusahaan-perusahaan ini.
Laba Turun
Raksasa otomotif seperti Geely Auto dan BYD sama-sama mengalami kerugian nilai tukar asing yang parah pada kuartal pertama, yang mencerminkan bahwa meskipun strategi globalisasi membawa pertumbuhan penjualan, strategi tersebut juga memperkenalkan risiko keuangan baru.
Laba Geely pada kuartal pertama yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham adalah 4,17 miliar yuan ($610 juta), turun 27% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini terutama disebabkan oleh kerugian nilai tukar bersih hampir 500 juta yuan selama periode tersebut, dibandingkan dengan keuntungan bersih lebih dari 3 miliar yuan pada periode yang sama tahun lalu.
Laba Inti
Tidak termasuk item non-inti seperti keuntungan dan kerugian nilai tukar, laba inti Geely sebenarnya tumbuh sebesar 31%. Ini menunjukkan bahwa setelah menghilangkan gangguan mata uang, kinerja operasional bisnis intinya mempertahankan momentum yang kuat.
BYD juga terkena dampak fluktuasi mata uang. Beban keuangan perusahaan pada kuartal pertama melonjak 210% menjadi 2,1 miliar yuan, terutama didorong oleh kerugian nilai tukar.
Laba bersih BYD pada kuartal pertama anjlok 55% menjadi 4,09 miliar yuan. Selain faktor mata uang, musim sepi penjualan tradisional di awal tahun dan penghapusan bertahap kebijakan pendukung juga memberikan pukulan bagi perusahaan.
Related News
Bukan Sekedar Hobi, Ekspor Florikultura RI Tembus Rp3,51, 96 Negara
AirAsia tidak Baik-baik Saja, Dua Maskapai Ini Diminta Turun Tangan
Rupiah Merosot Lagi ke Rp17.753, Lima Hari Berturut-Turut
Harga Emas Antam Naik Meski Pasar Global Tertekan Bunga The Fed
Indeks Dolar Tembus Level Tertinggi Usai Suku Bunga AS Naik
Rupiah Pagi ini Dibuka Melemah Pasca Fed Naikkan Suku Bunga





