DSSA Satu-Satunya Saham HSC RI di FTSE, Bakal Bertahan atau Terdepak?
:
0
Lembaga penyedia indeks global, FTSE Russell
EmitenNews.com - Lembaga penyedia indeks global, FTSE Russell, kembali menyoroti saham-saham Indonesia dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dalam review pasar terbarunya.
Namun demikian, langkah FTSE kali ini dinilai lebih sebagai penyesuaian teknis indeks dan bagian dari pemantauan reformasi pasar modal Indonesia secara menyeluruh, bukan semata-mata sentimen negatif terhadap pasar domestik.
Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia, Fat Aliansyah Budiman, mengatakan FTSE Russell saat ini masih melanjutkan kebijakan freeze yang sebelumnya telah diterapkan sambil memantau perkembangan reformasi pasar Indonesia.
“FTSE menyebutkan bahwa mereka akan melanjutkan freeze yang sebelumnya sudah dilakukan pada review sebelumnya. Jadi sebenarnya kalau diperhatikan secara seksama, baik MSCI maupun FTSE sejauh ini, mereka sedang mereview reformasi pasar di Indonesia secara besar,” ujarnya dalam kanal YouTube Maybank Sekuritas, dikutip Kamis (21/5/2025).
Menurut Fat, perbedaan utama dibanding review sebelumnya terletak pada arah kebijakan FTSE yang kini lebih fokus pada penyesuaian negatif seperti downgrade bobot hingga penghapusan saham kategori HSC dari indeks.
“Kalau kali ini satu arah, jadi hanya yang memang pengurangan bobot, perubahan downgrade, atau mungkin dikeluarkan dari list karena masuk kategori saham HSC,” jelasnya.
Ia menilai langkah FTSE tersebut sejalan dengan pendekatan MSCI Inc. yang sebelumnya lebih dulu menerapkan interim freeze terhadap sejumlah saham Indonesia.
Dalam daftar terbaru FTSE Russell, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) disebut menjadi satu-satunya saham Indonesia yang saat ini masuk daftar HSC FTSE.
“Kalau berdasarkan informasi resmi FTSE, sejauh ini hanya DSSA yang masuk list saham HSC,” ujar Fat.
Sementara itu, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) juga diketahui belum kembali masuk sebagai konstituen aktif FTSE Russell setelah sebelumnya mengalami penyesuaian status dalam FTSE Global Equity Index Series pada September 2024.
Related News
Harga Masker Melesat, OMED Tak Naikkan Harga tapi Banyak yang Sold Out
WIFI Kejar 3 Juta+ Pelanggan, Siapkan Capex Rp7 Triliun
ISSP Optimis Prospek Q4–2026, Ditopang Proyek Migas & Unit 7 Gresik
Data Center Serbu DMAS, Manajemen Buka Opsi Konversi Landbank
Investor Singapura Serok 872 Juta Saham INPP, Kini Kuasai 35,95 Persen
Telkom Patok Dividen 60-90% dari Laba Bersih, 94% Capex ke Bisnis Inti





