EmitenNews.com - Sepanjang paruh pertama 2026, PT Timah (Persero) Tbk atau TINS berhasil menggemukkan kantong keuntungannya secara mengesankan. Pendapatan perusahaan melonjak menjadi Rp10,41 triliun, meninggalkan jauh pencapaian periode yang sama tahun sebelumnya di angka Rp4,22 triliun.

Lonjakan uang masuk hingga 146,9 persen ini mengalir lancar ke lini bawah tanpa habis tergerus inefisiensi operasional. Laba usaha tercatat terbang 810,9 persen dari sekadar Rp380,19 miliar menjadi Rp3,46 triliun. Pada baris paling akhir, sisa keuntungan bersih yang dikantongi perusahaan menyentuh angka Rp2,71 triliun. Angka ini melompat 804,7 persen dibandingkan posisi pertengahan 2025 yang hanya menorehkan laba Rp300,06 miliar.

Uang Masuk Makin Deras, Efisiensi Tetap Terjaga 

Pencapaian laba yang gemuk ini sangat didukung oleh kemampuan perusahaan menekan biaya di tengah naiknya volume jualan. Margin laba kotor berada di level 38,96 persen, naik hampir dua kali lipat dari tahun lalu yang hanya 20,04 persen. Beban pokok operasional memang naik ke angka Rp6,36 triliun, namun kenaikan ini tergolong wajar dan jauh lebih kecil dibandingkan persentase pertumbuhan penjualannya.

Margin laba operasi juga ikut menebal menjadi 33,24 persen dibandingkan posisi lama di 9,01 persen. Penebalan ini terjadi lantaran beban umum dan administrasi berhasil dijaga pertumbuhannya di angka Rp549,64 miliar saja. Alhasil, meski perusahaan harus menyetor beban pajak yang membengkak drastis menjadi Rp831,71 miliar, margin laba bersihnya tetap aman bertengger di level 26,05 persen, membaik pesat dari posisi tahun sebelumnya di 7,11 persen.

Rapor Dapur Bisnis: Tambang Timah Jadi Bintang, Sisanya Masih Berjuang 

Dari total uang yang masuk, unit bisnis tambang timah terbukti menjadi tulang punggung utama. Pendapatan eksternal dari segmen ini tembus Rp9,41 triliun, meroket tajam dari sebelumnya Rp3,23 triliun. Keuntungan operasional dari divisi ini juga mencetak rapor biru sebesar Rp3,57 triliun, berlipat ganda dari angka tahun lalu di Rp415,77 miliar. 

Bila ditelusuri dari rincian jenis barangnya, jualan logam timah menyumbang Rp9,39 triliun, ditambah dengan pemasukan dari jasa pengangkutan sebesar Rp18,61 miliar. Sebagai catatan kecil dalam aturan pembukuan perusahaan, pendapatan jasa angkut ini wajib dipisahkan dari nilai jualan logam timahnya. Pemisahan ini merupakan bentuk kepatuhan manajemen terhadap standar akuntansi PSAK 115 yang mewajibkan pemisahan kewajiban pelaksanaan antar layanan.

Kabar baik lainnya datang dari bisnis industri yang memproduksi bahan kimia dan solder timah. Setelah tahun lalu sempat tekor Rp20,03 miliar, divisi ini akhirnya berhasil putar balik cetak untung sebesar Rp16,45 miliar dengan total pendapatan eksternal mencapai Rp810,47 miliar. Uang masuk di segmen ini berasal dari penjualan kimia timah senilai Rp611,44 miliar dan produk solder timah Rp199,03 miliar.

Sayangnya, napas segar ini belum menjalar ke unit bisnis perseroan lainnya. Divisi batu bara penjualannya menciut jadi Rp52,77 miliar dan masih harus menelan rugi Rp12,96 miliar. Begitu pula dengan divisi konstruksi dan galangan kapal yang uang masuknya tersisa Rp18,52 miliar dengan kerugian membengkak pelan jadi Rp8,14 miliar.