Emas Perhiasan Sumbang Andil Inflasi Sepanjang 2025, Ini Catatan BPS
Emas dan emas perhiasan memberikan sumbangan andil inflasi tahunan terbesar pada tahun 2025. Komoditas ini menjadi komoditas utama penyumbang inflasi bulanan sebanyak 11 kali di tahun 2025. Dok. RajaemasIndonesia.
EmitenNews.com - Komoditas emas perhiasan menjadi penyumbang andil inflasi tahunan terbesar, 0,97 persen di Indonesia sepanjang 2025. Kondisi itu, didorong oleh trend kenaikan harga emas di pasar internasional yang terus berlanjut hingga akhir tahun.
"Emas dan emas perhiasan memberikan sumbangan andil inflasi tahunan terbesar pada tahun 2025. Komoditas ini menjadi komoditas utama penyumbang inflasi bulanan sebanyak 11 kali di tahun 2025," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini dalam jumpa pers, di Jakarta, Senin (5/1/2026).
Komoditas lainnya yang memiliki andil besar terhadap inflasi tahunan pada 2025, adalah cabai merah dengan andil 0,18 persen. Kemudian, diikuti oleh ikan segar, cabai rawit, dan beras yang masing-masing memberikan andil sebesar 0,15 persen.
Lainnya yang turut menyumbang inflasi tahunan yang signifikan meliputi daging ayam ras dan tarif air minum PAM dengan andil masing-masing 0,14 persen, bawang merah sebesar 0,10 persen, serta Sigaret Kretek Mesin (SKM) sebesar 0,06 persen.
Catatan BPS menunjukkan, secara kumulatif hingga Desember 2025, tingkat inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) maupun secara tahunan (year-on-year/yoy) mencapai 2,92 persen. Pudji menyatakan, angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan pada 2024.
Dilihat dari kelompok pengeluaran, inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 4,58 persen dan memberikan andil inflasi terbesar yakni 1,33 persen.
"Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok ini adalah cabai merah, ikan segar, cabai rawit, beras, dan daging ayam ras," katanya.
Kelompok pengeluaran lain yang memberikan andil inflasi tahunan dominan adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan inflasi 13,33 persen dan andil 0,87 persen, yang didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan.
Satu hal, kelompok pengeluaran informasi, komunikasi, dan jasa keuangan justru mengalami deflasi secara tahunan sebesar 0,28 persen dengan andil deflasi 0,02 persen.
Sedangkan menurut komponen, Pudji mengatakan bahwa seluruh komponen mengalami inflasi, dengan inflasi tahunan tertinggi dialami oleh komponen harga bergejolak (volatile food) sebesar 6,21 persen dengan andil 1,01 persen.
Inflasi komponen tersebut dipicu oleh komoditas pangan, seperti cabai merah, ikan segar, cabai rawit, beras, daging ayam ras, bawang merah, dan telur ayam ras.
Komponen inti mengalami inflasi tahunan sebesar 2,38 persen dan memberikan andil inflasi terbesar mencapai 1,53 persen dengan komoditas penyumbang andil terbesar meliputi emas perhiasan, minyak goreng, biaya sewa rumah, biaya akademi atau perguruan tinggi, dan kopi bubuk.
Komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami inflasi tahunan sebesar 1,93 persen dengan andil 0,38 persen.
Menurut Pudji Ismartini, komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah tarif air minum PAM yang terjadi di 13 wilayah, kemudian sigaret kretek mesin atau SKM, bensin, dan sigaret kretek tangan atau SKT. ***
Related News
Pertumbuhan Kredit 2026 Diperkirakan Masih Akan Single Digit
Kabupaten Bogor Catat Kunjungan Tertinggi Wisatawan di Jabar
Kalbar jadi Lokasi Hilirisasi Nasional Peternakan Ayam Terintegrasi
Harga Komoditas Logam Menguat, IHSG Cetak Rekor Tertinggi Selasa Ini
Menkeu Purbaya Lanjutkan Diskon 100 Persen PPN Rumah Sampai Akhir 2027
Pemerintah Tuntaskan Private Placement SUN Rp18,65 Triliun





