Energi, Aviasi, hingga Pertanian: Ini Daftar Belanja Indonesia dari AS
Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani perjanjian perdagangan bersejarah di Washington, D.C., Amerika Serikat, pada Kamis, 19 Februari 2026. (Dok: White House)
EmitenNews.com - Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi meneken Agreement on Reciprocal Trade (ART) pada 19 Februari 2026. Melalui perjanjian ini, Indonesia memperoleh tarif resiprokal 0% untuk sejumlah produk unggulan ekspor seperti minyak kelapa sawit, kopi, kakao, karet, dan tekstil ke pasar AS.
Selain itu, sebanyak 1.819 produk Indonesia—terdiri dari 1.695 produk industri dan 124 produk pertanian—mendapat pengecualian tarif dengan skema Most Favoured Nation (MFN).
Indonesia tak hanya membuka keran ekspor ke Amerika Serikat, tetapi juga bersiap menjadi pembeli besar produk strategis Negeri Paman Sam. Lewat penandatanganan perjanjian tersebut, pemerintah menyepakati pembelian komoditas energi hingga pesawat asal AS, mulai dari metallurgical coal, LPG, crude oil, refined gasoline, hingga armada dan komponen penerbangan.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto menyatakan, dalam siaran resmi, Minggu, 22/2/2026, langkah ini menjadi strategi menyeimbangkan neraca dagang sekaligus mengamankan pasokan energi nasional, di tengah terbukanya akses pasar AS bagi produk unggulan ekspor Indonesia.
Haryo juga menyampaikan ART akan efektif berlaku 90 hari setelah masing-masing negara menyelesaikan prosedur hukum domestik, termasuk konsultasi dan ratifikasi.
Untuk sektor tekstil, pemerintah AS menyiapkan pengurangan tarif hingga 0% melalui mekanisme Tariff-Rate Quota (TRQ), yang dinilai membuka ruang ekspansi signifikan bagi eksportir tekstil nasional.
Di sisi lain, Indonesia membuka akses pasar yang agresif dengan memberikan tarif 0% untuk 99% produk asal AS sejak perjanjian resmi berlaku (Entry in to Force/EIF). Pemerintah juga berkomitmen menghapus hambatan non-tarif, mulai dari perizinan impor, ketentuan TKDN, pengakuan standar AS, hingga sertifikasi halal.
Sebagai bagian dari upaya menyeimbangkan neraca dagang sekaligus menjaga ketahanan energi, Indonesia sepakat meningkatkan pembelian produk strategis dari AS, termasuk metallurgical coal, LPG, crude oil, dan refined gasoline.
Indonesia juga akan membeli pesawat beserta komponen dan jasa penerbangan, serta meningkatkan impor produk pertanian AS untuk bahan baku industri makanan-minuman dan tekstil.
Kesepakatan ART ini dipandang menjadi katalis penting bagi emiten berbasis komoditas, energi, dan manufaktur berorientasi ekspor, seiring terbukanya akses pasar AS dengan hambatan tarif yang semakin minimal.
Samuel Sekuritas dalam laporan riset akhir pekan lalu menebutkan bahwa partisipasi Indonesia dalam KTT Board of Peace dan penandatanganan perjanjian tarif resiprokal menandakan pendalaman strategis hubungan ekonomi dengan AS.
Komitmen pembelian pertanian skala besar dan penawaran proyek hilirisasi memperkuat momentum perdagangan bilateral, meskipun kompleksitas geopolitik terkait Gaza masih belum terselesaikan.
“Secara keseluruhan, Indonesia memasuki 2026 dengan momentum perdagangan yang konstruktif dan kesinambungan kebijakan, namun keberlanjutan kepercayaan investor akan sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar, disiplin fiskal, dan eksekusi strategi industri yang koheren,” tulis Samuel Sekuritas dalam laporan riset tersebut.
Related News
Termasuk AS, Bahlil Tegaskan Investasi Asing Wajib Patuh Hilirisasi
Kajian ITB, Banjir Bandang Sumatera Lampaui Standar Mitigasi Nasional
Buron Interpol Kasus TPPO Kamboja Rivaldo Aquino Tertangkap di Bali
Kecelakaan Tambang Timah, Polda Babel Tetapkan 2 Tersangka Lagi
Tarif Resiprokal Trump Batal, Ada Pembicaraan Lanjutan Indonesia-AS
Cekal Terhadap Bos Maktour Dicabut, KPK Ungkap KUHAP Baru Berlaku





