Fokus Hilirisasi Sawit PalmCo Siap Bangun Fasilitas Pengolahan Terpadu
PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo mengembangkan produk turunan sawit bernilai tinggi. Sub Holding PTPN III (Persero) itu, menggeser fokus bisnis dari sekadar produksi dan ekspor crude palm oil (CPO) menjadi pengembangan produk hilirisasi bernilai tinggi guna memacu pertumbuhan perekonomian. Dok. Radarindo.
EmitenNews.com - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo mengembangkan produk turunan sawit bernilai tinggi. Sub Holding PTPN III (Persero) itu, menggeser fokus bisnis dari sekadar produksi dan ekspor crude palm oil (CPO) menjadi pengembangan produk hilirisasi bernilai tinggi guna memacu pertumbuhan perekonomian.
Dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (25/3/2026), Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan, pihaknya kini menggeser fokus bisnis pada pengembangan produk turunan. Salah satunya pengolahan tandan buah segar (TBS) menjadi produk lanjutan seperti Bio Propylene Glycol (BioPG), yang mampu meningkatkan nilai ekonomi secara signifikan.
“Nilai tambah dari hilirisasi ini bisa meningkat hingga belasan kali lipat. Ini yang menjadi dorongan utama kami,” kata Jatmiko K. Santosa.
Saat ini PalmCo bersiap memulai pembangunan (groundbreaking) fasilitas pengolahan sawit terpadu di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatera Utara.
Rencana pembangunan tersebut merupakan bagian dari arah strategis perusahaan yang sejalan dengan kebijakan hilirisasi nasional, termasuk arahan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
“Program ini menjadi bagian dari ekosistem hilirisasi yang lebih luas, tidak hanya di sektor sawit, tetapi juga berbarengan lintas sektor sebagaimana diarahkan Danantara,” ucap Jatmiko.
Waktu pelaksanaan groundbreaking masih menunggu keputusan pemegang saham dan kegiatan tersebut dapat dilakukan dalam waktu dekat, setelah periode Lebaran.
Dalam tahap awal pengembangan, PalmCo akan membangun sejumlah fasilitas utama yang ditargetkan beroperasi bertahap mulai akhir 2028.
Fasilitas tersebut mencakup pabrik margarin dan shortening dengan kapasitas sekitar 40.000 ton per tahun, serta pabrik Cocoa Butter Equivalent (CBE) dan Cocoa Butter Substitute (CBS) berkapasitas sekitar 34.000 ton per tahun.
PalmCo juga akan mengembangkan fasilitas pengolahan lanjutan lainnya untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global produk berbasis sawit.
Pembangunan pabrik biodiesel dengan kapasitas sekitar 450.000 ton per tahun juga akan menjadi bagian dari pengembangan berikutnya, terutama untuk mendukung ketahanan energi nasional.
Proyek hilirisasi minyak sawit itu diproyeksikan mampu memberikan dampak ekonomi yang luas, termasuk dalam hal penyerapan tenaga kerja.
Pada fase konstruksi hingga operasional penuh, PalmCo memperkirakan total tenaga kerja yang terserap mencapai sekitar 2.900 orang.
“Ini bukan hanya proyek industri, tetapi juga upaya menggerakkan ekonomi daerah dan menciptakan pertumbuhan yang lebih merata,” tutur Jatmiko.
Selain penyerapan tenaga kerja langsung, keberadaan kawasan industri ini juga dipercaya dapat memicu efek berganda bagi sektor ekonomi lainnya, seperti logistik dan usaha kecil menengah di sekitar kawasan.
Dari sisi hulu, kehadiran fasilitas hilirisasi ini diharapkan memberikan kepastian pasar bagi petani sawit rakyat.
Pada 2030, PalmCo memproyeksikan fasilitas tersebut mampu menyerap hingga 2,7 juta ton tandan buah segar (TBS) per tahun, atau setara sekitar 567.000 ton CPO. Dari situ dipastikan hasil produksi petani terserap secara berkelanjutan. Ini penting untuk menjaga stabilitas ekosistem sawit nasional. ***
Related News
Menkeu Tambah Lagi Penempatan Dana SAL ke Bank, Kali Ini Rp100 Triliun
Aktivasi Coretax Capai 16,7 Juta dan SPT 8,8 Juta, Catat Imbauan DJP
Atasi Dampak Perang Timteng, Pemerintah Rancang Pajak Ekspor Batu Bara
Catat! DJP Perpanjang Deadline Lapor SPT Orang Pribadi Sampai 30 April
WFP: Eskalasi Konflik Timur Tengah Bisa Picu Kelaparan Dunia
OJK: Outlok Negatif Perbankan Pengaruh Rating Kredit Indonesia





