Gejolak Global dan Rupiah Melemah, Siap-siap Harga Rumah Ikut Terkerek
:
0
Ilustrasi Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Selasa (12/5/2026). Rupiah bergerak melemah 69 poin atau 0,40 persen menjadi Rp17.483 dibandingkan penutupan sebelumnya Rp17.414. Namun pada pukul 10.20 WIB, kurs rupiah telah menembus Rp17.510. dok.Medcom. ID.
EmitenNews.com - Harga rumah bakal terkerek naik dipengaruhi Lonjakan harga energi hingga pelemahan rupiah, yang Selasa (12/5/2026) pagi ini mencapai Rp17.500 per USD. Tekanan terhadap pasar properti diperkirakan semakin besar di tengah pelemahan daya beli masyarakat dan gejolak global.
Senior Director of Strategic Consulting JLL Indonesia, Milda Abidin mengemukakan hal tersebut kepada pers, di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa.
"Itu tidak bisa dihindari. Memang nggak bisa dipungkiri bahwa harga akan menyesuaikan. Kita juga nggak akan menutup diri bahwa harga akan naik," kata Milda Abidin.
Masuk akal kalau kemudian pengembang mulai mencari berbagai strategi agar kenaikan harga properti tidak melampaui kemampuan daya beli masyarakat. Salah satunya dengan memperbesar penggunaan material lokal dalam pembangunan proyek residensial.
Milda mengemukakan faktor tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) menjadi salah satu aspek penting untuk menjaga lonjakan biaya konstruksi agar tidak terlalu agresif.
TKDN lokal biasanya harus lebih tinggi. “Nah ini diharapkan untuk menjaga harga supaya kenaikannya tidak signifikan hingga mencapai affordability orang."
Tidak itu saja. Selain menekan biaya material, pengembang juga mulai mengubah strategi pengembangan proyek. Pengembangan kawasan pusat bisnis atau central business district (CBD) township kini lebih banyak diisi proyek hunian vertikal karena dianggap lebih efisien secara biaya.
Meski demikian, Milda sendiri belum dapat memastikan seberapa besar kenaikan harga rumah yang akan terjadi ke depan. Namun, kemungkinan tidak akan sebesar lonjakan harga bahan baku konstruksi.
"Kita pakai benchmark yang dulu ya, waktu besi atau baja naik 30-40%, impact kepada propertinya itu nggak sampai 15% kenaikan secara total cost. Jadi bisa dikira-kira berapa sih kenaikannya," ujarnya lagi.
Sebelumnya, Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Selasa (12/5/2026). Rupiah bergerak melemah 69 poin atau 0,40 persen menjadi Rp17.483 dibandingkan penutupan sebelumnya Rp17.414.
Related News
Wajib Pajak Nakal, Bersiaplah Kena Kepruk Purbaya!
UMKM di Antara Peran Ekonomi dan Realisasi Penerimaan Pajaknya
Ray Dalio Nilai Bitcoin Belum Jadi Aset Safe-Heaven
Jelang Pertemuan Trump - Jinping, Harga Emas Antam Naik Rp40.000
Reli Rekor Indeks Kospi Hari ini Berakhir
Harga Emas Selasa Naik di Atas USD4.750 per Ons





