GGRM Resah, Bidik Profitabilitas Namun Daya Beli Tengah Menurun
:
0
Public Expose Live ?PT Gudang Garam Tbk (GGRM), Kamis (10/9). Foto: EmitenNews/Wafi
EmitenNews.com - PT Gudang Garam Tbk (GGRM) membidik perbaikan kinerja perseroan terus berlanjut di paruh kedua 2026. Kendati begitu, GGRM masih mencermati sejumlah hal dalam menetapkan target yang ingin dicapai.
Direktur Gudang Garam (GGRM), Heru Budiman menjelaskan perseroan masih mempertimbangkan daya beli konsumen jika hanya berfokus pada kenaikan laba. Sebab, ia menilai apabila ingin terjadi peningkatan laba, tentu perlu didorong oleh kenaikan harga produk perseroan.
“Sehingga kalau hanya memperbaiki profitability, itu jawabannya tadi menaikan harga. Namun, akibatnya kita menjadi rokok paling mahal sesaat. Kecuali kenaikan harga tersebut juga diikuti oleh produsen rokok (lain) sekelas GGRM,” ujar Heru kala press conference Public Expose Live, Kamis (10/9).
Hal itu tak dapat dipungkiri mengingat volume penjualan industri rokok terus mengalami penurunan hingga 6,8%. Dari tiga segmen industri rokok GGRM, hanya Sigaret Kretek Mesin (SKM) yang terbesar 62,2% di segmen pasarnya. Sedangkan dua lainnya yaitu Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan Non-Kretek (SPMT) masing-masing memegang segmen pasar sebesar 33,4% dan 4,3%.
Ketiganya pun mengalami penurunan sepanjang semester I 2026 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. SKT menurun 2,9% jadi 35,1 miliar batang dari 36,2 miliar batang, SKM turun 8,8% jadi 65,4 miliar batang dari 71,7 miliar batang, dan SPMT turun 7,2% jadi 4,6 miliar batang dari 4,9 miliar batang. Secara keseluruhan, turun jadi 105,1 miliar batang dari 112,8 miliar batang.
Di saat yang sama, naiknya cukai selama periode 2020 hingga 2024, khususnya bagi produsen SKM Tier 1 yang membuat daya beli masyarakat merosot. Alhasil, sebagian masyarakat dengan kelompok berpenghasilan menengah ke bawah, beralih ke rokok yang lebih murah seperti SKT dan rokok yang tidak memenuhi ketentuan cukai.
“Dampak dari tren pergeseran konsumsi ke rokok yang lebih murah tersebut paling nyata dirasakan produsen Tier 1,” tutur Heru.
GGRM juga mencatat penurunan pendapatan selama paruh pertama 2026 sebesar 7,2% jadi Rp41,7 triliun dari Rp44,37 triliun. Hal itu terutama disebabkan oleh menurunnya volume penjualan hingga 13,6%.
Kendati mengalami penurunan pendapatan, GGRM masih mampu mengemas laba bersih, bahkan melesat hingga 2.440,2% dari Rp117,16 miliar menjadi Rp2,98 triliun di semester I 2026.
Heru menerangkan, adanya penyesuaian harga jual yang dilakukan secara bertahap pada paruh kedua tahun 2025 hingga awal tahun 2026 membuka perbaikan profitabilitas Perseroan. Beban cukai, PPN, dan pajak rokok mengalami penurunan sebesar 14,0% sejalan dengan penurunan volume penjualan. Kondisi tersebut menyebabkan peningkatan marjin laba bruto Perseroan dari 8,5% menjadi 14,5%.
Related News
Pengendali MGLV Jual 35 Juta Saham, Kepemilikan Turun Jadi 65,1 Persen
Bursa Siang (10/9) Catat Asing Net Sell Rp1,3T, Berkutat di BBCA–BBRI
BBTN Geber Diversifikasi Bisnis, Sasar Kredit Non-Perumahan Hingga 30%
Suspensi Dicabut, 2 dari 3 Saham Ngegas ke Harga Atas
Samator (AGII) Pastikan Siap Lunasi Surat Utang Jatuh Tempo 10 Oktober
Kisi-Kisi Dividen Bank Jago (ARTO), Ada Pertanda Cair?





