Harga Energi Melonjak, Prospek Pertumbuhan Ekonomi ASEAN-6 Dipangkas
Ilustrasi negara-negara di kawasan ASEAN
EmitenNews.com - Proyeksi pertumbuhan ekonomi negara ASEAN-6 kembali dipangkas seiring dampak konflik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga energi.
Maybank Investment Bank menurunkan estimasi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kawasan menjadi 4,5% pada 2026 dari sebelumnya 4,8%, serta 4,7% pada 2027 dari 4,8%.
Negara ASEAN-6 mencakup Indonesia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, dan Malaysia.
Penurunan proyeksi terbesar terjadi di Filipina dan Vietnam yang masing-masing turun 0,4 poin persentase, disusul Thailand sebesar 0,3 poin.
Menurut Maybank, lonjakan harga energi dan gangguan pasokan komoditas menjadi faktor utama yang menekan prospek kawasan, mengingat sebagian besar negara ASEAN merupakan importir bersih minyak dan gas.
Di tengah tekanan tersebut, Malaysia menjadi pengecualian karena berstatus sebagai eksportir energi bersih, sehingga relatif lebih tahan terhadap guncangan.
Selain menekan pertumbuhan, kenaikan harga energi juga diperkirakan memperburuk neraca transaksi berjalan dan melemahkan mata uang negara-negara pengimpor energi di kawasan.
Seperti dikutip dari Xinhua, Maybank juga merevisi naik proyeksi inflasi ASEAN-6 menjadi 2,7% pada 2026 dan 2027. Kenaikan paling signifikan terjadi di Thailand, Filipina, dan Indonesia.
Lebih lanjut, lonjakan harga energi dinilai berpotensi menghentikan siklus pelonggaran moneter serta menambah tekanan fiskal, terutama akibat peningkatan beban subsidi energi.
Untuk Indonesia, batas defisit fiskal 3% dinilai berisiko tertekan jika kenaikan harga minyak berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Related News
21 Ribu Kendaraan Terkendala Saldo, Jasa Marga Ingatkan Lagi Pemudik
Menhub Imbau Angkutan Logistik Patuhi Pembatasan Operasi di Arus Balik
Perusahaan Italia, Eni, Finalkan Investasi Proyek Gas Besar Di Kaltim
Intip 10 Saham Top Losers, Ada RLCO
Telisik! TRIN, dan EMAS Warnai 10 Saham Top Gainers
Jalani Pekan Singkat, Rata-rata Nilai Transaksi Harian Rp20,24 Triliun





