HBA Kalori Rendah Naik, Peluang Bagi Emiten Tambang
:
0
Foto: Pusdatin ESDM
EmitenNews.com - Harga acuan batu bara berkalori menengah dan rendah mengalami kenaikan pada periode pertama 1–14 November 2026, di tengah penurunan tipis Harga Batubara Acuan (HBA) utama. Penguatan harga acuan kalori rendah ini memberikan angin segar serta peluang peningkatan kinerja operasional bagi emiten pertambangan nasional.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan HBA utama periode 1–14 November 2026 sebesar USD125,60 per ton. Nilai tersebut terkoreksi 0,95 persen atau turun USD1,21 per ton dibandingkan periode kedua Oktober 2026 yang sebesar USD126,81 per ton.
Sebaliknya, tiga kategori HBA berdasarkan nilai kalori justru melaju naik. HBA I dengan kalori 5.300 kcal/kg GAR naik 4,52 persen menjadi USD97,85 per ton, HBA II kalori 4.100 kcal/kg GAR naik 4,81 persen menjadi USD69,28 per ton, dan HBA III kalori 3.400 kcal/kg GAR naik 2,44 persen menjadi USD46,64 per ton.
Penetapan acuan ini dipublikasikan oleh Kementerian ESDM pada Selasa (3/11/2026). Perhitungannya didasarkan pada transaksi penjualan aktual periode pengapalan 8 September hingga 7 Oktober 2026 yang juga berfungsi sebagai dasar pembayaran royalti via ePNBP Minerba.
Jika dibandingkan secara tahunan, posisi HBA periode pertama November 2026 masih melonjak 21 persen atau naik USD21,85 per ton dari periode pertama November 2025 yang tercatat USD103,75 per ton.
Kenaikan harga pada segmen kalori menengah dan rendah ini berpotensi mendongkrak average selling price (ASP) para emiten produsen batu bara kalori sedang-rendah di Indonesia. Kondisi ini menopang tingkat profitabilitas industri di tengah fluktuasi pasar global.
Penetapan harga mengacu pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 268 Tahun 2025 tentang Pedoman Penetapan Harga Patokan untuk Penjualan Komoditas Mineral Logam dan Batubara. Acuan dihitung dari rata-rata tertimbang volume harga jual pada titik serah Free on Board (FOB) Vessel.
Keempat kelompok HBA ini berlaku selama 1–14 November 2026 sebagai panduan transaksi pelaku usaha sekaligus acuan penerimaan negara subsektor pertambangan.(*)
Related News
Aset Terjaga, Pefindo Ganjar idAAA(sf) Sertifikat Efek Terbitan SMF
Rem Ekspor Bahan Baku, Pembangunan Smelter Dikaji Ulang
Waspada Tekanan IHSG Lanjut Hari Ini
Harga Drop, Tambang Diminta Tahan Produksi, Emiten Nikel Siap-Siap
Pemerintah Siapkan Storage Minyak Baru di Sumatra
IHSG Rontok ke 4.904, 624 Saham Anjlok, TMPO Malah Naik Paling Tinggi





