EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya menghentikan tren koreksi setelah dibuka menguat pada perdagangan Kamis (30/7/2026). 

Mengutip data RTI Business pukul 09.05 WIB, IHSG naik 29,080 poin atau 0,48% ke level 6.120,467. Indeks dibuka di 6.110,283 dan sempat menyentuh level tertinggi 6.131,881. Volume perdagangan mencapai 2,497 miliar saham dengan nilai transaksi Rp819,542 miliar.

Penguatan pagi ini menjadi penanda berakhirnya 5 hari merah beruntun yang menekan IHSG. Pada penutupan Rabu (29/7) kemarin, IHSG ditutup melemah 0,64% ke level 6.091,39 dengan investor asing membukukan net sell Rp183,81 miliar di Pasar Reguler.

Sentimen global masih campur aduk. Riset Kiwoom Sekuritas pada Kamis (30/7/2026) mencatat, "Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Rabu (29/7/26), dipicu berlanjutnya aksi jual pada saham-saham semikonduktor serta lonjakan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah."

Indeks S&P 500 turun 1,5%, Nasdaq melemah 1,7%, dan Dow Jones terkoreksi 2,2%.

Tekanan juga datang dari kebijakan The Fed menurut ridet Kiwoom, "Sentimen pasar cenderung negatif setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%, namun tiga pejabat FOMC memberikan dissenting vote dan menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 bps."

Ketua The Fed Kevin Warsh dalam konferensi pers menegaskan inflasi masih menjadi perhatian utama meskipun data Juni relatif lebih lunak.

Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada transisi kepemimpinan Bank Indonesia, "Pemerintah akan memulai proses pemilihan Gubernur Bank Indonesia yang baru setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri pada 25 Juli 2026."

Selama proses fit and proper test di DPR berlangsung, Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti ditunjuk sebagai Pejabat Gubernur Sementara. 

CORE Indonesia menyoroti bahwa, "Independensi Bank Indonesia berpotensi menghadapi tantangan di bawah ketentuan UU P2SK yang dinilai membuka ruang intervensi pemerintah lebih besar terhadap kebijakan bank sentral".