IHSG Kembali Tertekan, Sambangi Saham BBNI, TLKM, dan KLBF

Petugas kebersihan menyisir teras depan Bursa Efek Indonesia. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Mayoritas indeks Wall Street mengakhiri perdagangan kemarin melemah. Praktis hanya Dow Jones berhasil melawan tren negatif. Membalik kerugian yang sempat terjadi pada awal sesi perdagangan.
Enam dari tujuh saham megacap mengalami penurunan, dipimpin Tesla anjlok 1,8 persen. Satu-satunya pengecualian Apple, melonjak 0,3 persen, dan makin mendekati status sebagai perusahaan pertama di dunia dengan nilai pasar mencapai USD4 triliun.
Meski mayoritas Wall Street melorot, tetapi para investor tampak optimistis menghadapi fenomena biasa dikenal sebagai Santa Claus Rally. Nah, dari sisi data ekonomi, klaim pengangguran baru Amerika Serikat (AS) untuk pekan berakhir 21 Desember 2024 tercatat 219 ribu, lebih rendah dari proyeksi konsensus 225 ribu.
Namun, klaim lanjutan, yaitu pengajuan kembali tunjangan pengangguran, naik menjadi 1,91 juta, tertinggi sejak 13 November 2021. Perosotan mayoritas indeks Wall Street, aksi net sell asing kembali berlanjut, dan tekanan fluktuasi Rupiah terhadap USD diprediksi menjadi katalis negatif pasar.
Sementara penguatan beberapa harga komoditas berpotensi menjadi katalis positif unutk perdagangan hari ini, Jumat, 27 Desember 2024. So, IHSG diprediksi bergerak bervariatif cenderung melemah terbatas. IHSG akan mengorbit kisaran support 7.014-6.931, dan resistance level 7.118-7.196.
Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia merekomendasikan kepada para investor untuk menjala sejumlah saham berikut. Yaitu Kalbe (KLBF), RS Hermina (HEAL), Indocement (INTP), Bank BNI (BBNI), Telkom (TLKM), dan Mitra Adiperkasa (MAPI). (*)
Related News

Maanfaatkan Pasar Mamin, ITPC Meksiko Fasilitasi Business Matching

Malaysia Cabut Bea Masuk Anti Dumping Serat Selulosa Asal Indonesia

PLN Pertahankan Status Siaga Kelistrikan Hingga 11 April

Kemenperin Rilis Peta Jalan Hilirisasi untuk Pacu Swasembada Aspal

Investasi Tembus Rp206 Triliun, Industri Agro Serap 9,3 Juta Naker

Diskon Biaya Listrik 50 Persen Berakhir, Maret Berlaku Tarif Normal