IHSG Nyungsep Imbas Pembekuan MSCI, BEI Buka Suara
Potret nightview tampak logo UDX di Gedung Bursa Efek Indonesia menyambut suasana Imlek. Foto: EmitenNews/Aji.
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk tajam pada pembukaan perdagangan Rabu (28/1/2026) setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan pembekuan sejumlah mekanisme index review untuk pasar Indonesia. IHSG terperosok 6,87 persen atau 616,71 poin ke level 8.363,52, dari posisi penutupan sebelumnya di 8.980,23.
Tekanan jual langsung membanjiri pasar sejak menit awal perdagangan. Saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi tulang punggung indeks justru menjadi sumber tekanan utama, memicu aksi jual berantai di hampir seluruh sektor.
Beberapa saham big caps bahkan langsung terseret hingga mendekati batas Auto Reject Bawah (ARB). Sektor properti mencatat penurunan terdalam sebesar 6,29 persen, disusul energi 5,5 persen dan teknologi 3,66 persen, tersentak kuatnya sentimen risk-off di pasar domestik.
Tekanan indeks terutama datang dari saham-saham papan atas. DSSA menjadi pemberat terbesar IHSG dengan kontribusi minus 65,56 poin indeks, diikuti Barito Renewables Energy (BREN) sebesar minus 55,16 poin. Saham perbankan besar juga ikut menekan, dengan Bank Central Asia (BBCA) menyumbang tekanan minus 45,39 poin dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebesar minus 31,8 poin.
Pada pembukaan perdagangan Rabu (28/1), saham BREN langsung ambles 17,46 persen ke level Rp8.100 per saham. BBCA juga dibuka melemah sekitar 6 persen ke posisi Rp7.050, sementara tekanan turut menjalar ke saham perbankan lain seperti Bank Mandiri (BMRI) yang turun hampir 5 persen.
Koreksi tajam ini terjadi setelah MSCI pada Selasa (27/1) mengumumkan perlakuan sementara terhadap pasar Indonesia. MSCI membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), menahan penambahan konstituen ke indeks MSCI, serta menghentikan sementara kenaikan segmen ukuran indeks, termasuk dari Small Cap ke Standard.
MSCI menyatakan kebijakan tersebut bertujuan menekan perputaran indeks (index turnover) dan risiko investability, sambil memberi waktu bagi otoritas pasar Indonesia untuk meningkatkan transparansi struktur kepemilikan saham.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Kautsar Primadi Ahmad menyatakan BEI bersama OJK dan KSEI akan terus berdiskusi dengan MSCI.
“Terkait dengan pengumuman dari MSCI pagi ini, OJK, IDX, dan KSEI akan terus melakukan diskusi dengan MSCI. Sebelumnya, kami telah melakukan peningkatan keterbukaan dengan penyampaikan pengumuman data free float di website BEI. Namun jika dirasakan MSCI belum cukup, kami akan terus melakukan diskusi atas transparansi data sesuai proposal MSCI untuk menemukan kesepakatan,” ujar Kautsar, Rabu (28/1).
Pelaku pasar menilai pembekuan index review ini berpotensi meningkatkan risiko arus keluar dana pasif global, mengingat indeks MSCI menjadi acuan utama investor institusi internasional. Kekhawatiran tersebut tercermin dari tekanan agresif pada saham-saham unggulan, yang membuat IHSG langsung kehilangan pijakan sejak pembukaan perdagangan. (*)
Related News
PetroChina Mulai Pengeboran Sumur di WK Jabung
Wow! Pos Indonesia Siapkan Internet 100 Mbps Cuma Rp100 Ribu Per Bulan
Wall Street Melaju, IHSG Cenderung Koreksi
MSCI Bekukan Lonjakan Bobot Saham Indonesia
Sideways, IHSG Arungi 8.850-9.050
IHSG Rawan Koreksi, Angkut Saham INET, PGEO, dan BRPT





