EmitenNews.com - Pelaku pasar dikejutkan dengan pengumuman MSCI yang mempertimbangkan reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market.

Tak mampir dahulu ke Frontier Market, sebab MSCI menilai penurunan ke Frontier Market pun tidak cukup menggambarkan kedalaman masalah pasar Indonesia.

Pasalnya, MSCI menanggap, hingga saat ini kemajuan yang cukup belum terlihat secara konsisten di pasar saham Indonesia. Meski ada reformasi integritas pasar modal yang dijalankan OJK dan SRO, nyatanya kekhawatiran besar masih ada terkait disfungsi pasar, termasuk dugaan perilaku trading terkoordinasi yang berlanjut dan minimnya bukti penegakan aturan yang berarti.

"Oleh karena itu, MSCI menganggap klasifikasi Indonesia yang berkelanjutan sebagai Emerging Market tidak lagi tepat dan meluncurkan konsultasi proposal untuk mereklasifikasi Indonesia sebagai Standalone Market," tulis MSCI.

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata menganggap pengumuman MSCI berpotensi menambah tekanan terhadap pasar modal domestik. Hal itu beriringan dengan adanya penurunan outlook peringkat utang Indonesia oleh Moody’s dan Fitch menjadi negatif.

Karena itu, Liza memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi bergerak sideways hingga terkoreksi lebih dalam seiring ketidakpastian status Indonesia di MSCI.

“Kami melihat tekanan jual asing dan volatilitas diperkirakan berlanjut hingga terdapat kejelasan status posisi Indonesia,” kata Liza, Jumat (16/10).

Tak dipungkiri pula, secara year to date IHSG telah terkoreksi hingga 32,19 persen, dengan net foreign sell mencapai Rp111,29 triliun.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta berpandangan IHSG akan bergerak di area support 5.804 dan 5.647. Sedangkan resistance berada di area 6.016 dan 6.133.