EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan melanjutkan tekanan pada perdagangan Senin (19/10) setelah anjlok brutal -11,57% ke level 5.185,10 pada Jumat (16/10).

Kepanikan dipicu oleh keputusan MSCI yang membuka konsultasi untuk mereklasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

IHSG bahkan sempat memicu trading halt akibat terjun 678,68 poin dengan 812 saham melemah.

Data menunjukkan asing masih kabur besar-besaran. Pada Jumat saja, net foreign sell tercatat Rp3,40 triliun. Lalu, secara Year to Date (YTD), asing sudah jual bersih Rp110,77 triliun dengan kinerja IHSG YTD yang sudah minus -40,04%.

Senior Technical Analyst Mirae Asset, M Nafan Aji Gusta, mengatakan secara teknikal IHSG mengalami pelemahan tajam yang menandakan terganggunya stabilitas pasar secara mendadak dan sedang bergerak menuju penyelesaian penuh pola wave 5/(C)/Y.

Indikator Stochastic K_D dan RSI menunjukkan momentum negatif, meskipun volume naik yang artinya panic selling belum selesai.

Nafan juga memproyeksikan, area support pada perdagangan hari ini (19/10) berada di 4.989 dan 4.785, dan resistance di 5.318 dan 5.522.

Menurut Nafan, IHSG masih volatil dengan bias bearish. Persoalan utama MSCI bukan ada tidaknya reformasi, tapi sejauh mana reformasi itu bisa meningkatkan investability secara terukur dan berkelanjutan.

Aspek yang disorot adalah transparansi kepemilikan saham, akurasi free float, likuiditas, dan kemudahan akses investor asing.

"Meski reformasi sudah berjalan, MSCI masih dapat mempertahankan freeze apabila menilai persoalan mendasar belum sepenuhnya terselesaikan. Tantangan Indonesia bukan hanya memperbaiki regulasi, melainkan juga membangun kredibilitas pasar," jelasnya.