EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penurunan usai evaluasi MSCI terbaru yang memuat usulan penurunan pasar Indonesia ke Standalone Market. Pada penutupan perdagangan awal pekan, Senin (19/10/2026), indeks komposit ditutup merosot 188,49 poin atau 3,64% ke 4.996,61.

Indeks komposit sudah langsung anjlok pada pembukaan perdagangan pagi di level 4.961,87. IHSG sempat ke atas level 5.000 namun sempat pula ke level terendah 4.907,37.

Hanya 100 saham yang menguat dan tak mampu mengimbangi 656 saham yang harganya anjlok. Sebanyak 43 saham lainnya stagnan. Kapitalisasi pasar (market cap) kembali turun menjadi Rp8.863,32 triliun.

Saham-saham big banks yang mencatat penurunan menjadi penggerak utama transaksi. BBRI dengan nilai perdagangan terbesar Rp3,4 triliun harganya merosot 3,79% ke Rp2.540, disusul BMRI sebesar Rp2,6 triliun harga turun 0,88% ke Rp3.360 per saham. Selanjutnya BBCA Rp1,8 triliun harga merosot 6,86% ke Rp1.770 per saham.

Saham penggerak utama transaksi lainnya adalah TLKM senilai Rp2,2 triliun harga merosot 6,84% ke Rp1.770. Sementara itu DSSA yang mencatat transaksi Rp746,6 miliar harga menguat 2,10% ke Rp730 per saham.

Di tengah pelemahan IHSG, harga saham TMPO mencatat kenaikan tertinggi 28,03% ke Rp169, disusul TIFA menguat 25% ke Rp360, dan TRUK melesat 24,84% ke Rp4.020 per saham.

Sedangkan, saham-saham yang mencatat pelemahan terdalam hingga menembus batas autorejection bawah 7% yang berlaku mulai hari ini adalah CDIA turun 6,93% ke Rp376, ADMR merosot 6,87% ke Rp1.085, dan BBCA yang melemah 6,86% ke Rp4.820 per saham.