EmitenNews.com - Indeks dolar AS bertahan kokoh di kisaran 100,3 pada perdagangan Kamis. Lonjakan indeks dolar terjadi menyusul keputusan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang secara bulat menaikkan suku bunga dana federal sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4%.

Kenaikan ini merupakan pengetatan suku bunga pertama dalam tiga tahun terakhir. Bank sentral AS tersebut juga memberi sinyal akan melakukan pengetatan lebih lanjut tahun ini demi menahan laju inflasi.

Menurut data Trading Economics, nilai tersebut berada di level tertinggi dalam tujuh minggu terakhir setelah Federal Reserve (The Fed) mengambil langkah pengetatan moneter.

Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa laju inflasi di AS saat ini masih berada di tingkat yang terlalu tinggi. Data yang dirilis pekan lalu turut menunjukkan inflasi inti AS pada bulan Agustus naik melebihi perkiraan pasar.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump menyampaikan reaksi atas kebijakan moneter tersebut melalui unggahan di media sosial. Trump menyerukan agar suku bunga segera diturunkan menjadi 1% atau di bawahnya, meskipun ia tidak menyampaikan kritik secara langsung kepada Warsh.

Sementara itu, dinamika kebijakan moneter di tingkat global menunjukkan variasi. Bank of England diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan pada hari Kamis, sedangkan Bank of Japan dijadwalkan menaikkan suku bunga pada perdagangan Jumat. Dari sektor geopolitik, harga minyak mentah mengalami penurunan seiring munculnya harapan bahwa Arab Saudi dapat segera memulihkan aliran energi melalui jalur pipa Timur-Barat.

Bagi perekonomian Indonesia, penguatan indeks dolar AS ke level tertingginya berpotensi meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan memicu arus modal keluar (capital outflow). Keperkasaan mata uang AS ini juga berisiko membengkakkan biaya impor bahan baku serta beban pembayaran utang luar negeri berdenominasi dolar bagi pemerintah dan pelaku usaha di dalam negeri.(*)