EmitenNews.com - Kontrak berjangka saham AS bergerak menguat pada sesi perdagangan Kamis. Pasar mulai menunjukkan pemulihan (rebound) setelah indeks utama mengalami penurunan yang dipicu oleh pengumuman kebijakan moneter dari Federal Reserve (The Fed) pada sesi sebelumnya.

Berdasarkan data dari Trading Economics, kontrak berjangka Dow Jones tercatat naik 0,2%, sementara kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing menguat 0,3% dan 0,5%.

Pada perdagangan reguler hari Rabu, indeks Dow sempat merosot 1,21% akibat kerugian pada saham-saham jasa keuangan, diiringi penurunan S&P 500 sebesar 0,45% dan Nasdaq Composite sebesar 0,01%. Tekanan pasar berawal dari keputusan The Fed yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4%.

Kenaikan suku bunga acuan pertama dalam tiga tahun terakhir ini disertai sinyal akan adanya satu kenaikan lanjutan hingga akhir tahun. Bank sentral AS mengambil langkah tersebut demi mengekang inflasi, menyusul kenaikan harga minyak yang sempat menembus angka di atas USD100 per barel.

Di tengah pengetatan moneter tersebut, bursa saham mencatat lonjakan signifikan dari aksi korporasi individu. Saham perusahaan penyedia daya cadangan, Generac, melonjak drastis hingga 33% pada perdagangan setelah jam kerja reguler.

Aksi borong saham Generac terjadi setelah raksasa teknologi Amazon memperoleh waran untuk membeli saham Generac senilai hingga USD340juta. Pembelian ini merupakan bagian dari kesepakatan pasokan generator daya cadangan untuk pusat-pusat data (data center) milik Amazon.

Pemulihan bursa saham AS dan penguatan saham pendukung teknologi ini memberikan angin segar bagi pasar keuangan Indonesia dan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Tren penguatan sektor pendukung pusat data global berpotensi memberikan dorongan positif bagi saham-saham teknologi, penyedia tenaga listrik, dan infrastruktur di Bursa Efek Indonesia (BEI).(*)