EmitenNews.com - Dolar AS menguat secara luas terhadap mata uang utama dalam perdagangan valuta asing di New York pada Rabu (16/9). Penguatan ini dipicu oleh keputusan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir.

FOMC secara bulat memutuskan menaikkan kisaran target suku bunga dana federal sebesar 0,25 poin persentase menjadi 3,75–4,00%. Keputusan ini diambil seiring kondisi aktivitas ekonomi AS yang dinilai berkembang dengan kecepatan solid dan pengeluaran rumah tangga yang tetap tangguh.

Hasil proyeksi suku bunga dari para peserta FOMC (plot titik) mengungkapkan bahwa perkiraan staf mengasumsikan satu kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun. FOMC menegaskan bahwa pengetatan ini bertujuan untuk menekan inflasi yang masih tinggi.

"Langkah kenaikan suku bunga ini akan mendukung kembalinya inflasi ke target 2% secara tepat waktu," bunyi pernyataan resmi FOMC.

Seperti dilaporkan BigGo Finance kenaikan suku bunga AS ini mendorong nilai tukar dolar-yen melonjak hingga menyentuh level 156,42 yen sebelum ditutup pada posisi 156,36 yen. Sementara itu, euro terhadap dolar AS (EUR/USD) melemah dari USD1,1557 ke USD1,1464, dan mata uang GBP/USD juga tertekan dari USD1,3461 menjadi USD1,3372.

Penguatan dolar AS turut didukung oleh rilis data penjualan ritel AS bulan Agustus yang tumbuh 1,2% dari bulan sebelumnya. Angka tersebut jauh melampaui perkiraan pasar sebesar 0,8%. Selain itu, indeks harga impor AS naik 0,7%, melebihi proyeksi awal sebesar 0,5%.

Di sisi lain, harga minyak mentah berjangka NYMEX justru mengalami penurunan. Koreksi harga terjadi setelah muncul laporan bahwa Arab Saudi menargetkan pemulihan sekitar separuh kapasitas transportasi pipa utamanya dalam beberapa hari ke depan, yang meredakan kekhawatiran atas ketatnya pasokan global.

Bagi Indonesia, lonjakan nilai tukar dolar AS secara global ini berpotensi memberikan tekanan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah. Melemahnya mata uang kawasan Asia akibat kenaikan suku bunga The Fed berisiko meningkatkan biaya impor bahan baku dan energi di dalam negeri, serta memperlebar tingkat imbal hasil (yield) surat berharga negara (SBN) dalam merespons arah kebijakan moneter global tersebut.(*)