Jadi Andalan 2023, Konsumsi Diprediksi Bisa Tumbuh 5,5 Persen Hingga Akhir 2022

EmitenNews.com - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara mengatakan perekonomian Indonesia menjadi salah satu negara yang relatif stabil dan pulih lebih cepat dari pandemi di tengah guncangan perekonomian global. Hal tersebut berasal dari kekuatan konsumsi dan investasi di dalam negeri yang didorong oleh kebijakan pemerintah melalui APBN.
“Kalau kita lihat IMF setiap kali membuat proyeksi ekonomi dunia selalu diturunkan. Tapi kita lihat Indonesia, tahun 2020 (pertumbuhan ekonomi) kita minus 2,07 persen, tahun 2021 3,7 persen, tahun ini kita naik lagi mungkin bisa antara sekitar 5,0 sampai 5,2 persen, dan tahun depan kita proyeksi 5,3 persen," kata Wamenkeu dalam wawancara Kompas TV dalam program “Laporan Khusus Penyampaian Nota Keuangan RAPBN Tahun Anggaran 2023”, Selasa (16/08).
Wamenkeu mengatakan, kondisi Indonesia memang agak berbeda dengan seluruh dunia. "Karena kekuatan konsumsi dan investasi kita di dalam negeri yang digiring oleh kebijakan pemerintah,” jelas Suahasil.
Wamenkeu menyebut struktur produk domestik bruto (PDB) Indonesia sebesar 55 persen berasal dari konsumsi masyarakat sehingga harus terus dijaga. Dengan kebijakan pemerintah yang tepat, konsumsi Indonesia dapat tumbuh 5,5 persen hingga akhir tahun 2022.
“Jadi tahun depan komponen paling besar apa? Masih tetap konsumsi rumah tangga. Yang kedua adalah investasi, pembentukan modal tetap bruto untuk melakukan investasi di perekonomian,” ujar Wamenkeu.
Ketika kegiatan ekonomi, dunia usaha, dan investasi sudah muncul, Wamenkeu berharap dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di tahun depan.
“Kebijakan pemerintah yang tepat bisa membuat orang tertarik untuk melakukan investasi. Ini yang mesti kita cari terus sehingga dia bisa menjadi kebijakan ekonomi, fundamental yang baik bagi dunia usaha, bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas ekonomi," tandasnya.
Menurut dia bukan APBN yang langsung menciptakan pertumbuhan ekonomi. Tetapi masyarakat dan dunia usaha dengan support dari APBN.(fj)
Related News

Balas Indonesia dengan Tarif Impor 32 Persen, Ini Alasan Trump

Hadapi Aksi Trump, Ekonom Ini Sarankan RI Evaluasi Kebijakan Dagang

Program JETP Jalan Terus, Sudah Masuk Rp18,15T Untuk 54 Proyek

Usai Semua Saham BUMN Masuk Danantara, Ini Harapan Sang CEO

Jaga Keandalan, Aplikasi Coretax DJP Sempat Alami Waktu Henti

Bermula dari KKV, Kini Gerai OH!SOME Sukses Memancing Pembeli