EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk di sesi I perdagangan, Selasa (23/6) ke level 6.037,520 atau 1,29 persen.

IHSG terus bergerak melemah sejak awal perdagangan dengan dibuka di 6.096,499. Meski sempat menguat ke 6.121,775 sepanjang intraday, namun indeks kehabisan bahan bakar hingga akhirnya ditutup melemah pada penutupan sesi I.

Pelemahan terjadi dengan 437 saham rontok, 221 saham menguat dan 152 saham stagnan.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritaa, Alrich Paskalis Tambolang menyebut dalam jangka pendek IHSG diperkirakan masih bergerak dalam pola konsolidasi dengan kecenderungan menguat terbatas.

Di samping itu, pasar juga masih menanti keputusan final dari MSCI dan perkembangan kebijakan moneter global.

Menurut Alrich, keputusan MSCI menjadi salah satu katalis penting yang mempengaruhi persepsi investor global terhadap aksesibilitas dan kualitas pasar modal Indonesia.

"Apabila Indonesia tetap mempertahankan status Emerging Market tanpa adanya penurunan klasifikasi, maka hal tersebut akan menjadi sentimen positif karena menghilangkan ketidakpastian yang selama ini membayangi pasar," ujar Alrich kepada Emitennews, Selasa (23/6).

Sebaliknya, apabila terdapat perubahan yang kurang menguntungkan, pasar berpotensi merespons dengan peningkatan volatilitas jangka pendek akibat penyesuaian portofolio investor asing.

"Meski demikian, kami melihat probabilitas Indonesia mempertahankan status Emerging Market masih relatif besar mengingat berbagai perbaikan regulasi dan infrastruktur pasar yang telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir," tambahnya.

Ia juga mengatakan, secara teknikal IHSG masih bergerak sideways di area 6.000 hingga 6.200 dengan potensi koreksi jangka pendek hari ini di 6.000.