KSSK: Kondisi Fiskal, Moneter dan Keuangan Triwulan I Masih Aman
:
0
Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Kamis (7/5). Foto: BI
EmitenNews.com - Hasil asesmen Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menunjukkan bahwa kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan selama triwulan I tahun 2026 tetap dalam kondisi terjaga, di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global, seiring eskalasi konflik di Timur Tengah. Hal itu terungkap hasil rapat KSSK yang dirilis Kamis (7/5).
Memasuki bulan April 2026, dinamika penyelesaian konflik Timur Tengah masih menjadi faktor utama volatilitas pasar keuangan global, terutama terhadap lonjakan harga energi.
Berdasarkan perkembangan tersebut, KSSK yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia (BI), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), akan terus mencermati dan melakukan asesmen forward looking atas kinerja perekonomian dan sektor keuangan terkini seiring risiko ketidakpastian ekonomi global yang meningkat, sekaligus melakukan upaya mitigasi secara terkoordinasi, baik antarlembaga anggota KSSK maupun dengan Kementerian/Lembaga lain.
Hal ini berdasarkan rapat berkala KSSK II tahun 2026 yang telah dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 27 April 2026.
Dampak konflik pada gangguan pasokan global mendorong kenaikan harga minyak dunia dan sejumlah
komoditas penting lainnya, sehingga memengaruhi kelancaran rantai pasok perdagangan antarnegara. Dengan perkembangan ini, pertumbuhan ekonomi dunia diprakirakan melambat menjadi 3,1% pada 2026 dari sebelumnya sebesar 3,4% pada 2025, dengan inflasi global
diprakirakan meningkat menjadi 4,4% pada 2026 dari sebelumnya sebesar 4,1% pada 2025, sebagaimana prakiraan International Monetary Fund (IMF) dalam publikasi World Economic Outlook edisi April 2026.
Kenaikan tekanan inflasi mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter global, termasuk penurunan Fed Funds Rate (FFR) di Amerika Serikat (AS). Di pasar
keuangan, volatilitas pasar keuangan meningkat dipengaruhi perilaku flight to safety investor sehingga mendorong penguatan dolar AS dan terbatasnya aliran modal global ke negara berkembang.(*)
Related News
Saham-Saham di AS Melemah Oleh Gesekan Geopolitik dan Lonjakan PHK
Harga Minyak Terbang Lagi, AS dan Iran Duel di Dekat Selat Hormuz
Ini Bantalan Fiskal Pemerintah, Gaji Ke-13 ASN, Stimulus dan Bansos
Gubernur Khofifah Puji Fungsi Intermediasi Bank Jatim, Ayo Cek Datanya
Kunjungan Wisman Melonjak, Tetapi Kok Industri Hotel Mengeluh?
Yield Obligasi 10 Tahun AS dan Australia Bertahan di Bawah 5 Persen





